Sumber: Associate Press | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Gelombang ketiga aksi protes bertajuk “No Kings” dijadwalkan berlangsung pada 28 Maret 2026. Para penyelenggara mengklaim aksi ini akan menjadi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah Amerika Serikat.
Para penggerak aksi menyebut protes ini ditujukan untuk menentang apa yang mereka anggap sebagai kecenderungan otoritarianisme di bawah Presiden Donald Trump. Aksi-aksi sebelumnya telah menarik jutaan peserta, dan jumlah massa diperkirakan akan meningkat tajam kali ini.
Mengutip AP, lonjakan kemarahan publik dipicu oleh pengetatan kebijakan imigrasi Trump di Minneapolis, yang berujung pada bentrokan kekerasan dan kematian dua orang dalam beberapa pekan terakhir.
“Kami memperkirakan ini akan menjadi aksi protes terbesar dalam sejarah Amerika,” kata Ezra Levin, direktur eksekutif bersama organisasi nirlaba Indivisible, kepada Associated Press. Ia memperkirakan hingga 9 juta orang akan turun ke jalan.
Aksi “No Kings” diorganisasi oleh jaringan berbagai kelompok di seluruh Amerika Serikat dan menjadi wadah utama bagi kemarahan publik terhadap upaya Trump untuk mengonsolidasikan dan memperluas kekuasaan presiden.
Baca Juga: Mengejutkan! Amazon PHK 16.000 Karyawan Lagi, Total 30.000 Sejak Oktober
“Ini sebagian besar merupakan respons terhadap serangan serius terhadap demokrasi dan komunitas kami, serta perasaan bahwa tidak ada pihak yang akan datang menyelamatkan kami,” ujar Levin.
Trump sebelumnya menepis kritik tersebut dengan mengatakan para demonstran tidak mewakili rakyat Amerika, serta menegaskan bahwa dirinya bukan seorang raja.
Fokus Bergeser Usai Kematian di Minneapolis
Rencana aksi terbaru sebenarnya telah disusun sebelum operasi penegakan imigrasi di Minneapolis. Namun, kematian dua warga akibat tindakan agen federal membuat fokus protes bergeser.
Levin mengatakan aksi kali ini bertujuan menunjukkan dukungan kepada Minnesota dan komunitas imigran di seluruh negeri, sekaligus menentang apa yang ia sebut sebagai praktik aparat federal yang melanggar hak konstitusional warga.
“Satu-satunya cara untuk mempertahankan hak-hak tersebut adalah dengan menjalankannya secara damai namun tegas. Itulah yang kami harapkan terlihat dalam aksi ‘No Kings’ ketiga ini,” katanya.
Trump secara luas membela kebijakan deportasi agresifnya dan menyalahkan pejabat daerah yang menolak bekerja sama. Namun, belakangan ia memberi sinyal perubahan sikap setelah muncul keprihatinan lintas partai atas kematian Alex Pretti di Minneapolis pada Sabtu lalu.
Baca Juga: Trump Senang Dolar Melemah, Tapi Investor Justru Panik Borong Emas













