Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - PARIS. AS dan sekutunya yakni Inggris, Prancis, dan Jerman sedang mendesak negara-negara lain di dewan pengawas nuklir PBB untuk mengesahkan resolusi pekan depan yang melaporkan Iran ke Dewan Keamanan PBB untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, kata para diplomat seperti dilansir Reuters, Jumat (4/9/2026).
Jika disahkan, resolusi tersebut akan menjadi tindak lanjut dari resolusi yang diadopsi pada 12 Juni tahun lalu, yang menyatakan Iran melanggar kewajiban non-proliferasinya karena tidak bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan terkait jejak uranium yang ditemukan di lokasi-lokasi yang tidak dideklarasikan.
AS melancarkan serangan udara terhadap Teheran pada 28 Februari, di mana AS—bersama Israel—menghancurkan atau merusak parah fasilitas pengayaan uranium Iran.
Baca Juga: Jika Fed Tak Pangkas Suku Bunga, Trump Ancam Stop Perdagangan dengan Sejumlah Negara
Sejak saat itu, Iran tidak mengizinkan inspektur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) kembali ke lokasi-lokasi yang dibom tersebut atau memverifikasi sisa stok uranium yang diperkaya—yang sebagian di antaranya telah diperkaya hingga tingkat kemurnian 60%, hanya selangkah lagi menuju tingkat kualitas senjata.
Resolusi oleh dewan IAEA yang beranggotakan 35 negara untuk melaporkan Iran ke Dewan Keamanan juga akan menjadi puncak dari kebuntuan terkait akses IAEA ke lokasi-lokasi tersebut; dewan telah mengesahkan dua resolusi dalam setahun terakhir yang menuntut Iran mendeklarasikan stok uranium yang diperkaya dan memberikan akses penuh kepada IAEA untuk memverifikasinya.
Draf teks resolusi tersebut belum diajukan secara resmi kepada dewan, dan negosiasi antarnegara mengenai redaksi yang tepat masih berlangsung, kata para diplomat. Biasanya, draf diajukan secara resmi pada awal pekan diadakannya pertemuan dewan.
Sebagai pihak dalam Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT), Iran memiliki hak untuk mengembangkan teknologi nuklir—termasuk pengayaan—untuk tujuan damai. Iran menyatakan tidak akan pernah memproduksi senjata nuklir.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari 6% Dalam Sepekan Seiring Berlanjutnya Konflik AS-Iran
Namun, Iran merupakan satu-satunya negara yang melakukan pengayaan hingga tingkat 60% tanpa membuat bom. Jumlah uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tersebut menjadi "perhatian serius" bagi IAEA.
IAEA meyakini bahwa lebih dari 200 kg uranium yang diperkaya tinggi tersebut selamat dari serangan pengeboman dan kini disimpan di kompleks terowongan—baik di Isfahan maupun di fasilitas Natanz.














