kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

AS Mulai Cemas: Akhirnya Trump Izinkan Penjualan Minyak Iran 30 Hari


Minggu, 22 Maret 2026 / 05:30 WIB
AS Mulai Cemas: Akhirnya Trump Izinkan Penjualan Minyak Iran 30 Hari
ILUSTRASI. Minyak Iran kembali diizinkan ke pasar global selama 30 hari, langkah tak biasa AS tekan harga. Asia bisa nikmati pasokan lebih cepat. (REUTERS/Christian Hartmann)


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah tak biasa dengan melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran selama 30 hari. Kebijakan ini bertujuan menekan lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik antara AS–Israel dan Iran.

Reuters melaporkan, dalam kebijakan terbaru ini, minyak Iran yang sudah berada di laut diizinkan untuk dijual ke pasar global. Langkah ini diperkirakan akan menambah sekitar 140 juta barel pasokan minyak dunia.

Harga Minyak Naik Tajam, AS Mulai Khawatir

Sejak konflik pecah pada 28 Februari, harga minyak dunia melonjak hingga sekitar 50% dan menembus level di atas US$ 100 per barel, tertinggi sejak 2022.

Lonjakan ini memicu kekhawatiran di dalam negeri AS, terutama karena berpotensi membebani bisnis dan konsumen menjelang pemilu paruh waktu.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut tambahan pasokan ini diharapkan bisa meredakan tekanan di pasar energi global.

Minyak Iran Bisa Cepat Masuk Pasar Asia

Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan pasokan minyak tersebut bisa tiba di kilang-kilang Asia hanya dalam waktu 3–4 hari, lalu mulai berdampak ke pasar setelah diolah dalam beberapa minggu.

Baca Juga: Kilang Minyak di Asia Ramai-Ramai Pangkas Produksi, Indonesia Termasuk

Asia sendiri merupakan pembeli terbesar minyak Timur Tengah. Selama ini, kilang independen di China menjadi pembeli utama minyak Iran karena harganya lebih murah akibat sanksi.

Sebelum sanksi diberlakukan kembali pada 2018, negara seperti India, Jepang, Korea Selatan, hingga Turki juga menjadi pelanggan besar minyak Iran.

Langkah Ketiga dalam Dua Pekan

Ini merupakan pelonggaran sanksi ketiga yang dilakukan AS dalam waktu kurang dari dua minggu.

Sebelumnya, Washington juga melonggarkan pembatasan terhadap minyak Rusia. Tujuannya sama: menahan kenaikan harga energi yang semakin tak terkendali.

Bessent bahkan menyebut kebijakan ini sebagai upaya “menggunakan minyak Iran untuk menekan harga,” sambil tetap menjaga tekanan terhadap Teheran.

Baca Juga: Vladimir Putin Ucapkan Selamat Idul Fitri, Apa Katanya?

Risiko: AS Dinilai Mulai Kehabisan Opsi

Namun, langkah ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah analis menilai kebijakan tersebut menunjukkan bahwa AS mulai kehabisan cara untuk mengendalikan harga minyak.

Analis energi menilai dampaknya juga terbatas jika jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz masih terganggu.

Seperti diketahui, Iran disebut telah menutup jalur tersebut, yang menjadi rute sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Konflik Kian Meluas, Infrastruktur Energi Terancam

Konflik yang berlangsung hampir tiga minggu ini tidak hanya memicu lonjakan harga, tetapi juga mengancam infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

Serangan dilaporkan terjadi di fasilitas energi Iran dan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.

Situasi ini membuat pasar energi global berada dalam tekanan tinggi, dengan risiko gangguan pasokan yang lebih luas jika konflik terus bereskalasi.

Tonton: Donald Trump Sebut Secara Militer Iran Sudah Kalah Dalam Perang

Kebijakan Sementara, Dampaknya Dipantau

Kebijakan pelonggaran ini berlaku hingga 19 April dan tidak mencakup wilayah seperti Korea Utara, Kuba, dan Krimea.

Meski demikian, belum pasti apakah minyak Iran benar-benar akan masuk ke AS, mengingat impor langsung dari Iran praktis terhenti sejak Revolusi 1979.




TERBARU

[X]
×