Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah tak biasa dengan melonggarkan sanksi terhadap minyak Iran selama 30 hari. Kebijakan ini bertujuan menekan lonjakan harga minyak global yang dipicu konflik antara AS–Israel dan Iran.
Reuters melaporkan, dalam kebijakan terbaru ini, minyak Iran yang sudah berada di laut diizinkan untuk dijual ke pasar global. Langkah ini diperkirakan akan menambah sekitar 140 juta barel pasokan minyak dunia.
Harga Minyak Naik Tajam, AS Mulai Khawatir
Sejak konflik pecah pada 28 Februari, harga minyak dunia melonjak hingga sekitar 50% dan menembus level di atas US$ 100 per barel, tertinggi sejak 2022.
Lonjakan ini memicu kekhawatiran di dalam negeri AS, terutama karena berpotensi membebani bisnis dan konsumen menjelang pemilu paruh waktu.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut tambahan pasokan ini diharapkan bisa meredakan tekanan di pasar energi global.
Minyak Iran Bisa Cepat Masuk Pasar Asia
Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan pasokan minyak tersebut bisa tiba di kilang-kilang Asia hanya dalam waktu 3–4 hari, lalu mulai berdampak ke pasar setelah diolah dalam beberapa minggu.
Baca Juga: Kilang Minyak di Asia Ramai-Ramai Pangkas Produksi, Indonesia Termasuk
Asia sendiri merupakan pembeli terbesar minyak Timur Tengah. Selama ini, kilang independen di China menjadi pembeli utama minyak Iran karena harganya lebih murah akibat sanksi.
Sebelum sanksi diberlakukan kembali pada 2018, negara seperti India, Jepang, Korea Selatan, hingga Turki juga menjadi pelanggan besar minyak Iran.
Langkah Ketiga dalam Dua Pekan
Ini merupakan pelonggaran sanksi ketiga yang dilakukan AS dalam waktu kurang dari dua minggu.
Sebelumnya, Washington juga melonggarkan pembatasan terhadap minyak Rusia. Tujuannya sama: menahan kenaikan harga energi yang semakin tak terkendali.
Bessent bahkan menyebut kebijakan ini sebagai upaya “menggunakan minyak Iran untuk menekan harga,” sambil tetap menjaga tekanan terhadap Teheran.
Baca Juga: Vladimir Putin Ucapkan Selamat Idul Fitri, Apa Katanya?
Risiko: AS Dinilai Mulai Kehabisan Opsi
Namun, langkah ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah analis menilai kebijakan tersebut menunjukkan bahwa AS mulai kehabisan cara untuk mengendalikan harga minyak.
Analis energi menilai dampaknya juga terbatas jika jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz masih terganggu.
Seperti diketahui, Iran disebut telah menutup jalur tersebut, yang menjadi rute sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Konflik Kian Meluas, Infrastruktur Energi Terancam
Konflik yang berlangsung hampir tiga minggu ini tidak hanya memicu lonjakan harga, tetapi juga mengancam infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
Serangan dilaporkan terjadi di fasilitas energi Iran dan negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Situasi ini membuat pasar energi global berada dalam tekanan tinggi, dengan risiko gangguan pasokan yang lebih luas jika konflik terus bereskalasi.
Tonton: Donald Trump Sebut Secara Militer Iran Sudah Kalah Dalam Perang
Kebijakan Sementara, Dampaknya Dipantau
Kebijakan pelonggaran ini berlaku hingga 19 April dan tidak mencakup wilayah seperti Korea Utara, Kuba, dan Krimea.
Meski demikian, belum pasti apakah minyak Iran benar-benar akan masuk ke AS, mengingat impor langsung dari Iran praktis terhenti sejak Revolusi 1979.













