Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump diperkirakan akan secara resmi menyatakan pada Rabu (1/7/2026) bahwa mereka tidak akan memperpanjang United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA).
Keputusan ini akan memulai hitungan waktu selama satu dekade yang dapat mengakhiri kawasan perdagangan bebas Amerika Utara yang telah berlangsung selama 32 tahun apabila ketiga negara gagal mencapai kesepakatan mengenai revisi perjanjian.
Pernyataan tersebut sekaligus memicu dimulainya proses peninjauan enam tahunan yang merupakan bagian dari "sunset clause" atau klausul kedaluwarsa yang dinegosiasikan pada masa pemerintahan pertama Presiden Donald Trump.
Meski demikian, langkah tersebut diperkirakan tidak akan banyak mengubah jalannya negosiasi yang selama ini berlangsung alot.
Baca Juga: Koeman Bela Strategi Lima Bek Meski Belanda Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Amerika Serikat tetap mendorong perubahan besar dalam perjanjian, termasuk peningkatan kandungan lokal AS dan regional dalam produksi otomotif Amerika Utara, serta penguatan perlindungan perdagangan untuk mencegah produk asal China memperoleh manfaat dari skema USMCA.
Menteri perdagangan dari Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Rabu guna menyampaikan sikap masing-masing mengenai perpanjangan perjanjian selama 16 tahun ke depan.
Sementara itu, Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) Jamieson Greer telah menjadwalkan putaran ketiga negosiasi dengan Meksiko pada pekan 20 Juli, yang mengindikasikan Washington masih akan terus mendorong perubahan terhadap isi perjanjian.
Greta Peisch, mantan penasihat hukum umum USTR yang kini menjadi mitra di firma hukum Wiley Rein di Washington, memperkirakan Amerika Serikat memang tidak akan menyatakan keinginan untuk memperpanjang perjanjian tersebut.
"Kami memperkirakan tanggal 1 Juli akan berlalu begitu saja, dan Amerika Serikat tidak akan mengonfirmasi keinginannya untuk memperpanjang perjanjian," ujar Peisch.
Ia menambahkan bahwa hingga kini belum jelas apakah pemerintah AS akan secara terbuka menjelaskan perubahan apa saja yang diinginkan dalam pernyataan resmi setelah pertemuan berlangsung.
"Masih belum jelas apakah Amerika Serikat akan secara terbuka menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya mereka inginkan," katanya.
Baca Juga: Harga Tembaga Melonjak, Ferrari dan BMW Pilih Aluminium untuk Mobil Listrik
Berpotensi Berakhir pada 2036
Apabila Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada gagal mencapai kesepakatan mengenai revisi USMCA, maka perjanjian tersebut akan berada dalam ketidakpastian berkepanjangan.
Sesuai mekanisme yang diatur dalam perjanjian, proses peninjauan akan dilakukan setiap tahun selama sepuluh tahun berikutnya. Jika hingga saat itu tidak tercapai kesepakatan baru, kawasan perdagangan bebas Amerika Utara akan resmi berakhir pada 1 Juli 2036.
Mekanisme peninjauan dan klausul kedaluwarsa ini berbeda dengan klausul penghentian (termination clause), yang memungkinkan Presiden Amerika Serikat maupun pemerintah Meksiko atau Kanada menarik diri dari perjanjian dengan pemberitahuan enam bulan sebelumnya.
USMCA sendiri mulai berlaku pada 2020 sebagai pengganti North American Free Trade Agreement (NAFTA) yang telah berlaku sejak 1994.
Saat peluncurannya, Trump sempat memuji USMCA sebagai "perjanjian perdagangan yang paling adil, paling seimbang, dan paling menguntungkan yang pernah kami sahkan."
Namun, pandangan tersebut kemudian berubah seiring membengkaknya defisit perdagangan barang Amerika Serikat terhadap Meksiko. Kondisi itu terjadi setelah banyak perusahaan memindahkan rantai pasok dari China ke Meksiko menyusul penerapan tarif tinggi terhadap produk-produk asal China.
Belakangan, Trump berulang kali menyatakan bahwa dirinya tidak ingin memperpanjang USMCA. Ia lebih memilih mempertahankan tarif tinggi yang telah dikenakan terhadap mobil, baja, dan aluminium asal Meksiko maupun Kanada.
AS Fokus Bernegosiasi dengan Meksiko
Untuk saat ini, pemerintah Amerika Serikat hanya menggelar putaran negosiasi resmi dengan Meksiko, sementara Kanada belum dilibatkan secara formal.
Hubungan dagang AS dan Kanada masih dibayangi berbagai persoalan bilateral, mulai dari pembatasan akses produk susu Amerika ke pasar Kanada hingga keputusan sejumlah provinsi Kanada menarik minuman keras asal Amerika Serikat dari rak-rak toko.
Meski demikian, Jamieson Greer tetap melakukan komunikasi dengan Menteri Perdagangan Kanada Dominic LeBlanc, walaupun belum menetapkan jadwal negosiasi resmi.
Dalam pembahasan bersama Meksiko, tim negosiasi Amerika Serikat meminta agar seluruh kendaraan yang diproduksi di Amerika Utara memiliki kandungan komponen khusus asal Amerika Serikat minimal 50%.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Kuartalan Terbesar dalam 13 Tahun
Ketentuan tersebut akan meningkatkan persyaratan kandungan regional menjadi sekitar 82% agar kendaraan dapat memperoleh fasilitas perdagangan dalam skema USMCA.
Greer juga menegaskan bahwa kendaraan yang dirakit di Meksiko maupun Kanada tetap berpotensi dikenakan tarif tertentu.
Seorang pejabat Meksiko mengungkapkan bahwa kedua negara juga membahas kemungkinan penerapan tarif global sebesar 15% terhadap kendaraan bermotor, namun dengan tarif yang lebih rendah bagi kendaraan asal Meksiko dan Kanada apabila kedua negara menyepakati aturan asal barang (rules of origin) yang lebih ketat.
Menurut pejabat tersebut, Amerika Serikat dan Meksiko pada dasarnya memiliki pandangan yang sama mengenai berbagai persoalan dalam implementasi USMCA, mulai dari terus menurunnya lapangan kerja manufaktur di Amerika Serikat, berkurangnya kandungan komponen asal AS dalam industri otomotif akibat meningkatnya penggunaan suku cadang dari Asia, hingga meningkatnya praktik transshipment atau pengalihan jalur perdagangan.
"Meksiko dan Amerika Serikat memiliki kesamaan tujuan. Yang sedang kami bahas saat ini adalah bagaimana cara terbaik untuk mencapainya," ujar pejabat tersebut.














