Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyatakan, krisis minyak dan gas saat ini akibat blokade Selat Hormuz lebih serius dibandingkan krisis energi pada 1973, 1979, dan 2002 jika digabungkan.
Dalam wawancara dengan Le Figaro sebagaimana dilansir Reuters Selasa (7/4/2026), Birol mengatakan, dunia belum pernah mengalami gangguan pasokan energi sebesar ini.
Baca Juga: India Akan Beri Jaminan Kredit untuk Bisnis yang Terdampak Perang Iran
Ia menjelaskan, dampak krisis ini akan dirasakan luas, mulai dari negara-negara Eropa hingga Jepang dan Australia. Namun, negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan terdampak.
Menurut Birol, negara berkembang akan menghadapi tekanan berlapis, mulai dari lonjakan harga minyak dan gas, kenaikan harga pangan, hingga percepatan inflasi secara umum.
IEA menyebut negara-negara anggotanya telah sepakat bulan lalu untuk melepaskan sebagian cadangan energi strategis guna meredam gejolak pasar. Sebagian cadangan tersebut telah mulai dikucurkan dan prosesnya masih berlanjut.
Krisis ini dipicu oleh langkah Iran yang hampir sepenuhnya memblokade lalu lintas di Selat Hormuz, sebagai respons atas serangan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Iran Tetap Menolak Kesepakatan Menjelang Batas Waktu Gencatan Senjata Trump
Jalur ini merupakan salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi global, dengan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati wilayah tersebut.
Akibatnya, harga energi melonjak tajam dan memperbesar tekanan terhadap perekonomian global.













