kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Bos IEA: Krisis Minyak dan Gas Saat Ini Lebih Parah dari 1973, 1979, dan 2002


Selasa, 07 April 2026 / 14:25 WIB
Bos IEA: Krisis Minyak dan Gas Saat Ini Lebih Parah dari 1973, 1979, dan 2002
ILUSTRASI. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol (REUTERS/Dilara Senkaya)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyatakan, krisis minyak dan gas saat ini akibat blokade Selat Hormuz lebih serius dibandingkan krisis energi pada 1973, 1979, dan 2002 jika digabungkan.

Dalam wawancara dengan Le Figaro sebagaimana dilansir Reuters Selasa (7/4/2026), Birol mengatakan, dunia belum pernah mengalami gangguan pasokan energi sebesar ini.

Baca Juga: India Akan Beri Jaminan Kredit untuk Bisnis yang Terdampak Perang Iran

Ia menjelaskan, dampak krisis ini akan dirasakan luas, mulai dari negara-negara Eropa hingga Jepang dan Australia. Namun, negara berkembang menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Menurut Birol, negara berkembang akan menghadapi tekanan berlapis, mulai dari lonjakan harga minyak dan gas, kenaikan harga pangan, hingga percepatan inflasi secara umum.

IEA menyebut negara-negara anggotanya telah sepakat bulan lalu untuk melepaskan sebagian cadangan energi strategis guna meredam gejolak pasar. Sebagian cadangan tersebut telah mulai dikucurkan dan prosesnya masih berlanjut.

Krisis ini dipicu oleh langkah Iran yang hampir sepenuhnya memblokade lalu lintas di Selat Hormuz, sebagai respons atas serangan Israel dan Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Iran Tetap Menolak Kesepakatan Menjelang Batas Waktu Gencatan Senjata Trump

Jalur ini merupakan salah satu titik paling vital dalam perdagangan energi global, dengan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati wilayah tersebut.

Akibatnya, harga energi melonjak tajam dan memperbesar tekanan terhadap perekonomian global.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×