Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Senin (30/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik Timur Tengah yang berpotensi memicu tekanan inflasi global.
Melansir Reuters, indeks acuan S&P/ASX 200 turun 1,3% ke level 8.406,20. Pelemahan ini terutama dipicu oleh aksi jual di sektor keuangan setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran melancarkan serangan ke Israel pada akhir pekan.
Baca Juga: Harga Aluminium LME Naik 6% Dekati Rekor Tertinggi 4 Tahun, Iran Serang Smelter Teluk
Sentimen pasar memburuk karena investor khawatir konflik akan meluas dan berdampak pada kenaikan harga energi, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi kembali naik.
Pelaku pasar kini menanti risalah rapat kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) yang dijadwalkan rilis Selasa (31/3/2026).
Dokumen tersebut diharapkan memberi gambaran lebih jelas terkait keputusan bank sentral yang sebelumnya menaikkan suku bunga di tengah risiko inflasi akibat konflik.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 58% untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada Mei, setelah RBA menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya secara berturut-turut bulan ini.
Dari sisi sektoral, saham keuangan menjadi penekan utama dengan penurunan hingga 3,4%. Empat bank terbesar Australia mencatat pelemahan antara 2,7% hingga 4,9%.
Baca Juga: Moratorium E-commerce WTO di Ujung Tanduk: AS Ngotot Permanen, India Minta 2 Tahun
Sektor lain seperti konsumer siklikal, properti, dan teknologi juga terkoreksi di kisaran 1,6% hingga 4,2%.
Sebaliknya, saham energi justru menguat hingga 2,7% dan mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023, seiring kenaikan harga minyak pascaserangan Houthi.
Produksi gas alam cair (LNG) Australia juga masih terganggu akibat badai Narelle, memperketat pasokan global.
Kondisi ini diperparah setelah Qatar menghentikan produksi LNG akibat kerusakan fasilitas dari serangan Iran, yang membuat Australia naik menjadi eksportir LNG terbesar kedua dunia.
Saham emiten migas seperti Woodside Energy dan Santos masing-masing menguat 2,5% dan 1,9%.
Baca Juga: Pakistan Bersiap Jadi Tuan Rumah Perundingan Damai, Negosiasi Pembukaan Selat Hormuz
Sementara itu, saham pertambangan juga mencatat kenaikan hingga 1% setelah harga aluminium melonjak hampir 6% akibat gangguan pasokan di Timur Tengah.
Saham South32 dan Alcoa masing-masing melonjak 6,5% dan 8,5%, sementara Rio Tinto naik 3%.
Saham emas turut menguat hingga 2,5% di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven.
Di kawasan regional, indeks acuan Selandia Baru S&P/NZX 50 turun 1,5% ke level 12.736,51.













