Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - CEO Cathay Pacific Airways Ronald Lam menyatakan bahwa prioritas jangka pendek maskapai adalah mempertahankan kapasitas penerbangan.
Pemotongan jadwal hanya akan menjadi “upaya terakhir”, meski konflik di Timur Tengah mendorong harga bahan bakar jet melambung.
Baca Juga: Aktivitas Pabrik China Tumbuh Tertinggi dalam Setahun Meski Risiko Perang Meningkat
Sejauh ini, maskapai yang berbasis di Hong Kong tersebut mencatat permintaan meningkat untuk penerbangan jarak jauh ke Amerika Utara, Eropa, dan Australia sejak dimulainya konflik AS-Israel dengan Iran bulan lalu, yang secara signifikan mengurangi lalu lintas melalui Timur Tengah, kata Lam kepada Reuters.
“Kami melihat ada lonjakan permintaan sedikit pada rute tertentu,” kata Lam dalam sebuah acara di Seattle yang merayakan layanan baru Seattle–Hong Kong pada Senin (30/3/2026) dilansir dari Reuters.
“Namun, situasi biaya bahan bakar jet juga menjadi perhatian.”
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Lesu Selasa (31/3) Pagi, Won Korea Selatan Paling Loyo
Lam menambahkan, permintaan penumpang dan kargo tidak akan berkelanjutan jika harga bahan bakar jet tetap dua kali lipat dari level sebelum konflik dalam jangka waktu lama.
Seperti banyak maskapai lain, Cathay Pacific telah mengenakan biaya tambahan bahan bakar yang besar untuk menanggulangi kenaikan biaya, tetapi belum memangkas kapasitas penerbangan, berbeda dengan beberapa maskapai lain seperti United Airlines, SAS Skandinavia, dan Air New Zealand.













