Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - BEIJING. China akan meningkatkan jumlah valuta asing yang wajib disimpan oleh lembaga keuangan sebagai cadangan. Ini merupakan salah satu langkah paling tegas untuk memperlambat laju penguatan yuan yang telah berlangsung lama, yang membuat mata uang tersebut berpotensi mencatat penurunan harian tertajam dalam enam bulan terakhir.
Mengutip Reuters, Selasa (3/11/2026), People's Bank of China (PBOC) menyatakan bahwa mereka akan menaikkan rasio cadangan devisa (RRR) sebesar 2 poin persentase, dari 4% menjadi 6%, yang berlaku efektif mulai 15 November.
Penyesuaian ini akan menarik tambahan dana sebesar US$ 24 miliar dari sistem keuangan, menurut perhitungan Reuters berdasarkan data resmi simpanan valuta asing.
Baca Juga: Korea Utara Bantah Terlibat Pencurian Kripto US$ 6 Miliar di Binance
Keputusan untuk menaikkan rasio tersebut "bertujuan untuk memperkuat pengelolaan likuiditas valuta asing di lembaga-lembaga keuangan," ungkap PBOC.
Menyusul pengumuman tersebut, yuan di pasar domestik (onshore) melemah hingga 0,37% terhadap dolar AS ke level terendah di 6,6728 per dolar—level terlemah sejak 23 Oktober. Mata uang ini pun diperkirakan akan mencatat penurunan harian terbesar sejak 15 Mei.
Yuan di pasar luar negeri (offshore) juga turut melemah.
"PBOC merespons apresiasi yuan yang kuat dan didorong oleh pasar," ujar Marco Sun, kepala analis pasar keuangan di MUFG (China).
"Dengan menyerap sebagian likuiditas dolar AS yang tersedia dalam sistem perbankan, mereka berupaya mengurangi momentum apresiasi yuan dan mencegah pasar mengembangkan ekspektasi satu arah yang berlebihan."
Yuan telah menguat lebih dari 5% terhadap dolar sepanjang tahun ini, mencapai level terkuatnya sejak 2022 dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia.
Penguatan ini didorong oleh ekspor yang tangguh, surplus perdagangan yang besar, serta tingginya konversi valuta asing (valas) oleh perusahaan-perusahaan.
Baca Juga: AS Akui Serang Iran, Bantah Operasi Militer Besar-besaran Dimulai Lagi
Kenaikan rasio cadangan wajib valas (FX RRR) pada hari Selasa menandai pembalikan kebijakan dari keputusan Bank Sentral Tiongkok (PBOC) pada September 2023—yang saat itu menurunkan FX RRR guna membendung pelemahan tajam yuan dan arus keluar modal.
Namun, para pelaku pasar tidak memperkirakan langkah ini akan membalikkan tren kenaikan yuan.
Zhaopeng Xing, pakar strategi senior untuk China di ANZ, mengatakan bahwa langkah tersebut kemungkinan besar "lebih memiliki makna simbolis" bagi pasar.
Menurut Xing, meningkatnya penyelesaian transaksi valas ke dalam mata uang yuan oleh perusahaan-perusahaan telah "menyebabkan ketidakseimbangan saat ini, di mana penawaran melebihi permintaan."
Ia menambahkan bahwa kenaikan FX RRR tersebut tidak akan cukup untuk meredakan kelebihan pasokan yang terjadi.
Secara terpisah, pada hari Selasa, PBOC menurunkan nilai tengah (midpoint rate) yuan untuk hari kedua berturut-turut menjadi 6,7150 per dolar. Angka ini 661 pip lebih lemah dari estimasi Reuters—penyimpangan ke arah pelemahan terbesar sejak 10 September.
Baca Juga: Bank Sentral China (PBOC) Tarik Likuiditas US$ 24 Miliar untuk Menahan Penguatan Yuan
Para pengamat pasar mencatat bahwa bank sentral telah berupaya memperkuat panduan harian resmi untuk yuan sepanjang tahun ini, namun tetap pada level yang lebih lemah dari ekspektasi pasar. Hal ini mengindikasikan bahwa bank sentral berupaya mengelola laju apresiasi mata uang tersebut.
Sementara itu, Deputi Gubernur PBOC, Zou Lan, menegaskan kembali sikap bank sentral terkait mata uang ini.
"China telah mendorong keterbukaan tingkat tinggi dan tetap berpegang pada prinsip agar pasar memainkan peran yang menentukan dalam pembentukan nilai tukar," ujar Zou dalam sebuah forum keuangan di Hong Kong pada hari Selasa.














