Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Kinerja perdagangan luar negeri China kembali menunjukkan ketahanan pada Mei 2026. Ekspor Negeri Tirai Bambu tumbuh lebih tinggi dari perkiraan pasar, didorong oleh percepatan pengiriman barang sebelum dampak kenaikan biaya energi global terasa lebih luas serta kuatnya permintaan produk semikonduktor dan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI).
Melansir Reuters, berdasarkan data bea cukai China yang dirilis Selasa (9/6/2026), nilai ekspor China dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) meningkat 19,4% secara tahunan (year on year/YoY) pada Mei 2026.
Baca Juga: Perkuat Poros Beijing-Pyongyang, Kim Jong Un Nyatakan Dukung Penuh Prinsip Satu China
Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan 14,1% pada April dan melampaui proyeksi ekonom yang memperkirakan kenaikan sekitar 15%.
Di sisi impor, pertumbuhan juga tetap kuat. Impor China naik 27,4% secara tahunan pada Mei, lebih tinggi dibanding kenaikan 25,3% pada April dan melampaui ekspektasi pasar sebesar 25%.
Kinerja ekspor yang solid menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah sejauh ini belum memberikan dampak signifikan terhadap sektor perdagangan China yang menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Sejumlah ekonom menilai lonjakan ekspor masih ditopang oleh aksi pembelian lebih awal (front-loading) dari para importir global yang berupaya mengamankan pasokan barang sebelum biaya energi dan logistik meningkat lebih jauh akibat konflik di kawasan Teluk.
Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Stabil, Namun Kepercayaan Pelaku Usaha Masih Lesu
Selain itu, permintaan global terhadap semikonduktor dan perangkat keras AI masih menjadi penopang utama ekspor manufaktur China.
Namun demikian, sejumlah indikator mulai menunjukkan bahwa momentum tersebut berpotensi mereda.
Data aktivitas manufaktur China pada Mei menunjukkan pesanan ekspor baru mengalami penurunan tajam dari level tertinggi dalam dua tahun yang tercatat pada April.
Sebelumnya, pelaku logistik dan pergudangan melaporkan lonjakan aktivitas akibat banyak perusahaan asing yang berlomba mengamankan pasokan barang.
Kini, setelah persediaan meningkat, pembeli diperkirakan mulai mengurangi pemesanan sambil menunggu perkembangan konflik dan peluang tercapainya gencatan senjata.
Ekspor yang kuat sebelumnya membantu ekonomi China yang bernilai sekitar US$ 20 triliun mencatat pertumbuhan kuartal pertama di atas ekspektasi pasar. Namun, sejumlah analis menilai momentum ekonomi mulai melambat dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Dolar AS Dekati Level Tertinggi 2 Bulan: Efek Gencatan Senjata Iran-Israel yang Rapuh
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa lemahnya permintaan domestik membuat ekonomi China semakin rentan terhadap perlambatan ekonomi global, sekaligus meningkatkan peluang pemerintah untuk meluncurkan stimulus tambahan.
Di tengah kondisi tersebut, Beijing juga menghadapi tekanan internasional yang semakin besar untuk memperkuat konsumsi domestik.
Sejumlah negara menilai model pertumbuhan yang terlalu bergantung pada ekspor dan manufaktur berpotensi menimbulkan ketidakseimbangan perdagangan global.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan terbarunya menyebut hampir 60% peningkatan pangsa pasar perusahaan-perusahaan China dapat dijelaskan oleh berbagai bentuk subsidi yang diterima.
Sementara itu, riset terbaru Federal Reserve AS menunjukkan surplus perdagangan China terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia kini telah melampaui 1%, lebih tinggi dibanding puncak yang pernah dicapai Jepang maupun Jerman pada akhir abad ke-20.
Baca Juga: 5 Cara SpaceX Mengubah Aturan Main IPO di Wall Street
Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kelebihan kapasitas industri China diperkirakan akan terus memengaruhi peta manufaktur global dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi diplomatik, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bulan lalu memang membantu meredakan ketegangan kedua negara.
Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan berarti, baik terkait sengketa tarif perdagangan maupun kerja sama dalam upaya penyelesaian konflik Iran.
Secara keseluruhan, surplus perdagangan China pada Mei 2026 tercatat sebesar US$ 105,43 miliar, meningkat dibanding US$ 84,8 miliar pada April dan jauh melampaui perkiraan pasar sebesar US$ 92,1 miliar.












