kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.956.000   -17.000   -0,57%
  • USD/IDR 16.835   43,00   0,26%
  • IDX 8.166   19,74   0,24%
  • KOMPAS100 1.150   4,04   0,35%
  • LQ45 837   4,65   0,56%
  • ISSI 287   -0,02   -0,01%
  • IDX30 437   3,68   0,85%
  • IDXHIDIV20 525   5,44   1,05%
  • IDX80 129   0,71   0,56%
  • IDXV30 143   1,25   0,88%
  • IDXQ30 141   1,26   0,90%

Demam Emas di China Picu Skandal Rp 23,4 Triliun, Platform Emas Besar Gagal Bayar


Kamis, 05 Februari 2026 / 06:09 WIB
Demam Emas di China Picu Skandal Rp 23,4 Triliun, Platform Emas Besar Gagal Bayar
ILUSTRASI. Puluhan ribu investor ritel kehilangan Rp 23,4 triliun di platform emas JWR China. Ini bahaya model pre-pricing yang harus Anda tahu.(REUTERS/Angelika Warmuth)


Sumber: South China Morning Post | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Runtuhnya mendadak sebuah platform perdagangan emas besar mengguncang kota Shenzhen di China selatan. Puluhan ribu investor ritel dilaporkan mengalami kerugian gabungan lebih dari 10 miliar yuan (sekitar US$ 1,4 miliar) atau setara dengan Rp 23,4 triliun (kurs Rp 16.770), menurut investor dan media lokal.

Melansir South China Morning Post, dalam beberapa bulan terakhir, lonjakan harga emas global membuat investor ritel China berbondong-bondong ikut “demam emas”. Banyak dari mereka menaruh dana di platform perdagangan logam online bernama JWR.

Masalah muncul ketika harga emas kembali melonjak dalam beberapa minggu terakhir. Banyak nasabah ramai-ramai menarik keuntungan mereka. Hal ini membuat JWR kekurangan likuiditas (uang tunai), sehingga tidak mampu memenuhi permintaan pencairan dana yang membeludak.

Ratusan investor pun mendatangi kantor JWR di Shenzhen pada akhir pekan untuk menuntut pengembalian dana mereka. Polisi turun tangan untuk menjaga ketertiban, berdasarkan video yang beredar di media sosial.

Otoritas di distrik Luohu, Shenzhen, mengumumkan telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki dugaan aktivitas bisnis tidak normal di JWR. Media keuangan Yicai melaporkan bahwa dana nasabah yang belum dibayar bisa melebihi 10 miliar yuan.

Baca Juga: Trump Sebut Pembicaraan dengan Xi Positif, Taiwan dan Kedelai Jadi Topik Bahasan

Kasus ini mengguncang kepercayaan terhadap pusat perdagangan emas Shuibei di Shenzhen, yang dikenal sebagai jantung perdagangan emas China. Insiden ini juga menyoroti risiko besar yang dihadapi investor ritel yang ramai-ramai masuk ke platform perdagangan logam tanpa izin resmi, di tengah reli panjang harga emas dan perak.

“Saya dan banyak investor lain sudah melapor ke polisi, baik di kota asal kami maupun di Shenzhen. Banyak juga yang datang langsung ke Shenzhen,” tulis seorang pengguna di platform RedNote (Xiaohongshu).

“Masih banyak platform serupa di pasar, dan risikonya sekarang sangat tinggi,” tambahnya.

Masalah likuiditas JWR dikaitkan dengan model perdagangan yang disebut “pre-pricing”. Lewat skema ini, platform menarik investor lewat media sosial dengan iming-iming modal kecil dan leverage tinggi untuk trading emas dan perak.

Dalam sistem “pre-pricing”, transaksi tidak dilakukan lewat bursa logam mulia resmi. Sebaliknya, platform membuat kesepakatan harga emas dan perak di masa depan secara privat dengan investor. Dana pun tidak lewat sistem kliring publik.

Baca Juga: Jelang Pensiun, Warren Buffett Jual 45% Saham Bank of America dan Borong Saham Ini

Ketika harga emas dan perak melonjak tajam dan investor ramai-ramai mencairkan keuntungan, platform harus menyediakan dana besar dengan cepat atau menyiapkan pengiriman fisik emas. Jika perusahaan tidak melakukan lindung nilai (hedging) dengan baik atau tidak punya cadangan dana cukup, risiko gagal bayar bisa cepat membesar.

Otoritas China sebenarnya sudah berulang kali memperingatkan investor ritel soal risiko ikut-ikutan reli emas. Beberapa kasus serupa juga sudah terjadi di Shenzhen, terkait platform logam mulia online dan model pre-pricing.

Pada Oktober lalu, Asosiasi Emas dan Perhiasan Shenzhen mengeluarkan peringatan risiko. Mereka mengungkap bahwa sejumlah pemasok bahan emas lokal, yang mengaku berdagang emas fisik, ternyata menjalankan praktik “taruhan emas non-fisik” lewat platform online. Otoritas menduga praktik ini termasuk perjudian ilegal.

“Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana sejumlah perusahaan, demi keuntungan ilegal dengan kedok perdagangan emas fisik, mendorong klien untuk ikut taruhan arah harga dengan leverage tinggi, pada dasarnya berjudi apakah harga akan naik atau turun,” bunyi peringatan tersebut.

Tonton: ANTM Tegaskan Kenaikan HPE Emas Tak Pengaruhi Penjualan, Fokus Pasar Domestik

Pengacara Deng Ping dari Guangzhou, yang sering menangani sengketa penggalangan dana swasta, mengatakan pasar kini menunggu hasil penyelidikan pemerintah.

“Keruntuhan platform investasi swasta seperti ini semakin sering terjadi,” katanya. “Dua tahun lalu yang ramai itu teh dan kripto, sekarang giliran logam mulia.”

Selanjutnya: HBO Hadirkan 6 Dokumenter Terbaik, Bongkar Kejahatan dan Tragedi

Menarik Dibaca: HBO Hadirkan 6 Dokumenter Terbaik, Bongkar Kejahatan dan Tragedi




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×