Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Washington sendiri juga menerapkan tekanan. Pada Maret, AS meluncurkan penyelidikan perdagangan terkait kelebihan kapasitas industri dan penggunaan tenaga kerja paksa di China. Langkah ini menambah daftar pembatasan ekspor semikonduktor dan peralatan pembuatan chip yang telah menghambat kemampuan China memproduksi chip paling canggih.
“Karena kontrol ekspor itulah China tidak memiliki akses terhadap beberapa peralatan manufaktur semikonduktor paling maju di dunia,” kata Chim Lee, analis kebijakan industri dari Economist Intelligence Unit.
Kompetisi perebutan pengaruh ini juga mempersulit kesepakatan pembelian pesawat Boeing oleh China senilai puluhan miliar dolar.
Beijing membutuhkan pesawat dan suku cadangnya, tetapi Washington disebut membutuhkan pengiriman rare earth yttrium dari China untuk membuat mesin jet, menurut pejabat pemerintah AS dan pihak perusahaan yang mengetahui pembicaraan tersebut.
China merespons langkah AS dengan eskalasi kekuatan regulasi.
Sejak akhir 2025, Beijing mewajibkan produsen chip menggunakan setidaknya 50% peralatan buatan dalam negeri untuk menambah kapasitas baru. China juga melarang perangkat lunak keamanan siber tertentu buatan AS dan Israel serta mewajibkan pusat data yang didanai negara mengganti chip AI asing. Kebijakan ini mendorong substitusi domestik sekaligus menyingkirkan pemasok AS dari pasar China.
Tonton: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Kuartal II Tembus 5,7%
Kamar Dagang Eropa di China dalam laporan April menyatakan bahwa kontrol ekspor China yang bersifat ekstrateritorial berpotensi “mengganggu rantai pasok global dalam skala yang belum pernah terjadi, sehingga menimbulkan kerusakan ekonomi maupun non-ekonomi.”
Saat AS berupaya mengurangi ketergantungannya terhadap mineral kritis China, Beijing juga bergerak cepat mencari “titik cekik” baru.
Pejabat China telah menggelar pembicaraan awal dengan pemasok peralatan panel surya mengenai kemungkinan pembatasan ekspor teknologi paling maju ke AS.
“Akan ada lebih banyak upaya dari pihak China untuk mengidentifikasi di mana titik-titik cekik itu berada,” kata Mazur. “Mereka akan terus melempar berbagai kebijakan untuk melihat mana yang paling efektif.”













