Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mayoritas mata uang utama pada perdagangan Rabu (1/7/2026), didorong lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS serta meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Mengutip Reuters, penguatan dolar mendorong nilai tukar yen Jepang melemah ke 162,77 per dolar AS, level terendah dalam sekitar 40 tahun.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi Rabu (1/7) Pagi, Brent ke US$ 73,45 & WTI ke US$ 70,13
Posisi tersebut bahkan melampaui level yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang beberapa bulan lalu.
Kepala Strategi Makro Asia Pasifik Wells Fargo Chidu Narayanan menilai, otoritas Jepang semakin dekat untuk kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing.
"Kami menilai peluang intervensi semakin besar. Ini bukan semata-mata soal level nilai tukar tertentu, tetapi juga mengenai kredibilitas Kementerian Keuangan Jepang dalam menjaga stabilitas pasar," ujarnya.
Pelaku pasar juga menilai libur nasional di Amerika Serikat pada Jumat mendatang dapat menjadi momentum bagi pemerintah Jepang untuk membeli yen. Volume perdagangan yang lebih tipis dinilai dapat memperbesar dampak intervensi.
Baca Juga: Panduan Aturan Extra Time dan Adu Penalti di Fase Gugur Piala Dunia 2026
Di pasar global, penguatan dolar didukung oleh kenaikan tajam yield obligasi pemerintah AS.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melonjak sekitar 9 basis poin pada perdagangan Selasa sebelum akhirnya ditutup naik 4,8 basis poin. Sementara itu, yield obligasi tenor dua tahun terakhir berada di level 4,1702%.
Meski tidak ada pemicu tunggal yang jelas, analis menilai pergerakan tersebut kemungkinan dipengaruhi penyesuaian posisi investor menjelang akhir bulan.
Perhatian investor kini tertuju pada data nonfarm payrolls AS yang akan dirilis Kamis. Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS naik ke level tertinggi dalam dua tahun pada Mei, meski laju perekrutan masih relatif lemah.
Baca Juga: Microsoft Bersiap PHK Ribuan Karyawan Lagi, Divisi Xbox hingga Penjualan Terdampak
Kepala Strategi Valas National Australia Bank (NAB) Ray Attrill mengatakan, pasar tenaga kerja AS sejauh ini masih cukup kuat sehingga belum memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga.
"Seluruh data menunjukkan pasar tenaga kerja masih tangguh. Dari perspektif mandat ganda The Fed, belum ada sinyal yang mengarah pada kebutuhan untuk memangkas suku bunga," kata Attrill.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 67% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada September. Sebulan lalu, probabilitas tersebut masih berada di kisaran 20,5%.
Analis TD Securities Prashant Newnaha menyebut, ruang bagi pihak yang memperkirakan kebijakan moneter tetap tidak berubah semakin menyempit.
Baca Juga: Bank Dunia Hentikan Pinjaman ke China Mulai 2031, Ini Alasannya
"Inflasi masih jauh di atas target dan data ekonomi AS terus melampaui ekspektasi. Dengan sikap The Fed yang tetap hawkish, argumen untuk mempertahankan suku bunga tanpa perubahan menjadi semakin sulit," ujarnya.
Selain menantikan data ketenagakerjaan AS, pelaku pasar juga mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam forum European Central Bank (ECB) Forum on Central Banking di Portugal.
Sementara itu, mata uang utama lainnya juga melemah terhadap dolar AS. Euro turun tipis 0,07% ke US$ 1,1413, sedangkan pound sterling melemah 0,09% ke US$ 1,3252. Di sisi lain, dolar Australia turun 0,18% ke US$ 0,6907 dan dolar Selandia Baru terkoreksi 0,04% ke US$ 0,5674.














