kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.944   -29,00   -0,16%
  • IDX 5.999   115,16   1,96%
  • KOMPAS100 778   14,20   1,86%
  • LQ45 588   9,58   1,66%
  • ISSI 208   4,74   2,33%
  • IDX30 333   5,83   1,78%
  • IDXHIDIV20 409   6,49   1,62%
  • IDX80 88   1,57   1,82%
  • IDXV30 111   2,39   2,20%
  • IDXQ30 107   1,91   1,82%

Dorong Ekonomi, Pemerintah Jepang Siapkan Investasi Lebih dari ¥ 370 Triliun


Kamis, 25 Juni 2026 / 17:32 WIB
Diperbarui Kamis, 25 Juni 2026 / 17:48 WIB
Dorong Ekonomi, Pemerintah Jepang Siapkan Investasi Lebih dari ¥ 370 Triliun
ILUSTRASI. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut akan melakukan investasi senilai lebih dari ¥ 370 triliun (Pool via REUTERS/YUICHI YAMAZAKI)


Sumber: Reuters,Bloomberg | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Pemerintah Jepang mengumumkan cetak biru ekonomi Jepang terbaru. Cetak biru tersebut menyiratkan pemerintah negeri sakura ini akan membelanjakan uang besar-besaran dalam periode 14 tahun ke depan.

Dalam cetak biru tersebut, pemerintah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut akan melakukan investasi senilai lebih dari ¥ 370 triliun, sekitar Rp 41.026,90 triliun, dalam periode 14 tahun yang berakhir pada Maret 2041.

Peta jalan investasi ini menandai langkah kunci dalam upaya Takaichi menanamkan pengaruhnya pada strategi pertumbuhan Jepang, seiring perubahan teknologi dan ketegangan geopolitik yang membentuk kembali prioritas ekonomi.

Takaichi berupaya menyalurkan investasi ke sektor-sektor yang dapat memperkuat keamanan ekonomi, mulai dari ketahanan rantai pasokan hingga teknologi kritis, sambil meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjang negara melalui dukungan untuk industri-industri baru.

Baca Juga: Piala Dunia 2026 Pecahkan Rekor Taruhan, Nilai Judi Diproyeksi Tembus US$ 50 Miliar

Bloomberg melaporkan, sekitar ¥ 101,6 triliun, setara Rp 11.265,76 triliun, dialokasikan untuk belanja akal imitasi (AI) dan cip saja. Ini pertama kalinya pemerintah Jepang membuat cetak biru dengan jangka waktu sangat panjang.

 “Seingat saya, ini adalah pertama kalinya peta jalan untuk pertumbuhan yang mencakup periode yang begitu panjang dipresentasikan, dan saya belum pernah mendengar rencana negara lain seperti ini,” kata Harumi Taguchi, Kepala Ekonom S&P Global Market Intelligence, dikutip Bloomberg, Kamis (25/6/2026).

Pemerintah Takaichi mendorong kombinasi investasi publik dan swasta untuk mencapai target, tetapi tidak memberikan rincian sinergi antara kedua sektor tersebut.

Dalam proyeksi pertumbuhan yang paling optimistis, pemerintah diperkirakan akan berkontribusi sebesar ¥10 triliun per tahun. Dengan demikian, kontribusi publik bisa mencapai sedikit kurang dari setengahnya.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok ke Level Pra-Perang, Ini Pemicunya!

Para ekonom menilai sulit menghitung seberapa besar dampak yang akan ditimbulkan strategi ini. Sebabnya, perusahaan swasta sudah menginvestasikan ratusan miliar dolar dalam pabrik dan peralatan setiap tahunnya.

“Dengan jangka waktu yang begitu panjang, mustahil memprediksi bagaimana kondisi ekonomi akan berkembang, sehingga akurasi rencana tersebut pasti sangat rendah, menimbulkan pertanyaan tentang keandalannya,” kata Taguchi.

Rencana belanja tersebut juga tidak menjelaskan bagaimana tepatnya pemerintah akan membiayai belanja, tanpa memperburuk keuangan yang sarat utang.

Pemerintah juga merilis proyeksi ekonomi dan fiskal jangka panjang, yang menggabungkan strategi pertumbuhan Takaichi dalam tiga skenario.

Baca Juga: Inovasi Ubah Produsen Lemak Susu Swiss Jadi Produsen Tinta Pengaman Uang

Dalam skenario paling optimistis, di mana strategi tersebut berjalan sesuai rencana, tingkat pertumbuhan potensial diproyeksikan meningkat menjadi 1,8% dari 0,4%. Rasio utang terhadap PDB diperkirakan akan menurun secara stabil.

Dalam dua skenario lainnya, di mana ketidakpastian teknologi dan pasar membatasi dampak strategi tersebut, atau di mana tren saat ini berlanjut, rasio tersebut diproyeksikan akan mulai meningkat lagi pada tahun 2030-an. Ketiga skenario tersebut mengasumsikan inflasi stabil di sekitar 2%.

Dalam cetak biru tersebut, pemerintah Jepang juga menyiapkan kebijakan moneter yang mendukung permintaan swasta. Reuters melaporkan, rancangan tersebut mendesak Bank of Japan (BOJ) menyelaraskan keputusannya dengan upaya Perdana Menteri Sanae Takaichi meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan yang tegas dalam cetak biru tersebut menegaskan kekhawatiran pemerintah Takaichi terhadap potensi peningkatan suku bunga lebih lanjut, setelah BOJ tidak lagi menerapkan kebijakan moneter yang sangat longgar.

Baca Juga: Proyeksi Kinerja Micron Optimistis: Indeks Nikkei Jepang Cetak Rekor Penutupan Baru

Rancangan tersebut juga menjanjikan pemerintah akan mengambil langkah-langkah yang gesit dan memadai untuk mencegah kembalinya deflasi, sambil meningkatkan pertumbuhan jangka panjang.

"Seiring pemerintah berupaya mencapai pertumbuhan yang kuat di bawah kebijakan ekonomi dan fiskalnya, kebijakan moneter tepat yang mendukung permintaan swasta melalui kenaikan harga yang stabil sangat penting," menurut draf yang ditinjau Reuters.

Sekadar info, pemerintah Jepang memang selalu memasukkan paragraf tentang kebijakan moneter dalam cetak biru. Tapi biasanya pemerintah Jepang hanya menggunakan kalimat samar, dan hanya mendesak BOJ memandu kebijakan secara tepat guna untuk mencapai stabilitas harga.

Sudah lama menjadi kebiasaan bagi pemerintah untuk memasukkan paragraf tentang kebijakan moneter dalam cetak biru, meskipun sebagian besar sengaja menjaga bahasanya tetap samar, biasanya hanya mendesak BOJ untuk memandu kebijakan secara tepat guna mencapai stabilitas harga.

Baca Juga: Ekonomi Australia: Lowongan Kerja Turun, Tapi Pengeluaran Rumah Tangga Melonjak

Rancangan cetak biru Takaichi menyimpang dari praktik tersebut. Rancangan Takaichi secara eksplisit menyerukan kebijakan untuk mendukung permintaan swasta dan mengacu pada persyaratan hukum bagi BOJ untuk selaras dengan kebijakan pemerintah.

 “Meskipun susunan kalimatnya tidak langsung, bahasa tersebut tampaknya menolak kenaikan suku bunga dan menggarisbawahi kehati-hatian pemerintah terhadap risiko penurunan ekonomi yang terkait dengan kenaikan suku bunga prematur,” kata Takahide Kiuchi, mantan anggota dewan BOJ.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×