CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.610.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.962   0,00   0,00%
  • IDX 6.232   56,24   0,91%
  • KOMPAS100 823   8,72   1,07%
  • LQ45 628   5,84   0,94%
  • ISSI 214   2,70   1,27%
  • IDX30 354   2,95   0,84%
  • IDXHIDIV20 440   1,97   0,45%
  • IDX80 94   1,10   1,18%
  • IDXV30 118   0,63   0,54%
  • IDXQ30 114   0,48   0,43%

Ekspor Magnet Tanah Jarang China ke AS Belum Pulih Sepenuhnya


Senin, 20 Juli 2026 / 16:00 WIB
Ekspor Magnet Tanah Jarang China ke AS Belum Pulih Sepenuhnya
ILUSTRASI. FILES-CHINA-US-POLITICS-ELECTION-TRUMP (AFP/PEDRO PARDO)


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Nina Dwiantika

KONTAN.CO.ID - BEIJING. Pengiriman magnet tanah jarang dari China ke Amerika Serikat (AS) masih belum kembali ke level sebelum perang dagang, meski kedua negara telah menyepakati gencatan dagang pada 2025. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pemerintahan Presiden Donald Trump bahwa Beijing belum sepenuhnya menjalankan komitmen dalam kesepakatan tersebut.

Melansir Bloomberg (20/7), berdasarkan data bea cukai China, ekspor magnet tanah jarang ke AS pada semester I-2026 rata-rata mencapai 479 ton per bulan. Jumlah tersebut sekitar 20% lebih rendah dibandingkan rata-rata 586 ton per bulan pada periode 2022–2024, sebelum China memperketat ekspor sebagai respons atas perang tarif dengan AS.

Padahal, kelancaran pasokan material kritis, termasuk magnet tanah jarang, menjadi salah satu poin penting dalam kesepakatan yang dicapai Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Oktober 2025 untuk menghentikan sementara eskalasi perang dagang.

Magnet tanah jarang merupakan komponen penting dalam berbagai industri strategis, mulai dari kendaraan listrik, otomatisasi pabrik, hingga peralatan pertahanan. Oleh karena itu, pasokannya menjadi perhatian utama bagi sektor manufaktur di AS yang masih bergantung pada impor dari China.

Baca Juga: Warga China Rela Keluar Rp 3 Jutaan demi Merasakan Simulasi Topan

Sejumlah pejabat Gedung Putih dan Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) menilai China belum memenuhi pemahaman AS terkait implementasi kesepakatan tersebut. Meski demikian, menurut sumber yang mengetahui persoalan itu, Trump dan sejumlah pejabat senior masih enggan membawa isu tersebut ke ranah yang lebih konfrontatif.

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, juga mengakui kepatuhan China dalam memasok mineral tanah jarang masih "belum sempurna".

Ketergantungan AS terhadap pasokan dari China masih sangat tinggi. Negeri Tirai Bambu memproduksi lebih dari 90% magnet tanah jarang dunia, sementara upaya AS dan negara-negara sekutunya membangun rantai pasok alternatif diperkirakan masih membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Akibatnya, industri Amerika masih rentan terhadap kebijakan pembatasan ekspor yang diberlakukan Beijing sejak April 2025. Meskipun data terbaru menunjukkan pengiriman mulai stabil sepanjang tahun ini, volumenya masih jauh di bawah tingkat sebelum pembatasan tersebut diberlakukan.

Baca Juga: Kapitalisasi Bursa China Susut US$ 1,48 triliun, Regulator dan Pelaku Pasar Bergerak


Tag


TERBARU

[X]
×