Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia berbalik melemah pada awal perdagangan Rabu (22/4/22026), setelah sempat naik sekitar US$ 1 di sesi Asia. Pelaku pasar kini mencermati prospek perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak Brent turun 21 sen atau 0,2% ke level US$ 98,27 per barel, setelah sempat menyentuh US$ 99,38.
Sementara itu, minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 28 sen atau 0,3% ke US$ 89,39 per barel, setelah sebelumnya sempat naik hingga US$ 90,71.
Baca Juga: AS Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Kesepakatan Masih Tanda Tanya
Kedua kontrak acuan tersebut sebelumnya menguat sekitar 3% pada perdagangan Selasa.
Presiden Donald Trump mengumumkan perpanjangan tanpa batas gencatan senjata dengan Iran beberapa jam sebelum masa berlakunya berakhir, guna memberi ruang bagi kelanjutan pembicaraan damai.
Namun, langkah tersebut dinilai sepihak dan belum ada kepastian apakah Iran maupun sekutu AS, Israel, akan menyetujui perpanjangan gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan.
Kepala strategi Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa menilai, pasar masih kekurangan arah yang jelas.
“Dengan hasil perundingan yang belum pasti dan Selat Hormuz masih tertutup, pasar belum memiliki arah yang jelas. Selama konflik tidak kembali memanas, harga kemungkinan bertahan di kisaran saat ini,” ujarnya.
Baca Juga: Bursa Australia Melemah, Ketidakpastian AS-Iran Membayangi; Saham BHP Tahan Penurunan
Trump juga menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, yang oleh Teheran dianggap sebagai tindakan perang.
Belum ada tanggapan resmi dari pemimpin tertinggi Iran. Namun, kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran menyebut Iran tidak meminta perpanjangan gencatan senjata dan menegaskan ancaman untuk membongkar blokade AS dengan kekuatan militer.
Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Data menunjukkan hanya tiga kapal yang melintasi jalur tersebut dalam 24 jam terakhir, jauh di bawah kondisi normal di mana sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati kawasan ini.
Dari perkembangan lain, militer Israel menyatakan kelompok Hizbullah menembakkan roket ke arah pasukannya di Lebanon selatan, yang dinilai melanggar gencatan senjata menjelang pembicaraan yang dimediasi AS.
Baca Juga: Harga Minyak AS Naik Rabu (22/4), Ketidakpastian Perundingan Iran Masih Membayangi
Sementara itu di Eropa, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut pipa minyak Druzhba siap kembali beroperasi.
Namun, sejumlah sumber industri menyatakan Rusia berencana menghentikan ekspor minyak dari Kazakhstan ke Jerman melalui jalur tersebut mulai 1 Mei.
Pelaku pasar juga menanti data persediaan minyak dari Badan Informasi Energi AS (EIA). Data awal dari American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah AS turun 4,5 juta barel pada pekan lalu, setelah sebelumnya naik selama tiga pekan berturut-turut.
Analis memperkirakan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 1,2 juta barel untuk pekan yang berakhir 17 April.













