Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menguat pada Kamis (30/4/2026), seiring kekhawatiran bahwa pasokan dari kawasan Timur Tengah akan tetap terganggu lebih lama akibat kebuntuan negosiasi untuk mengakhiri perang AS dan Israel melawan Iran.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Juni naik US$1,91 atau 1,62% menjadi US$119,94 per barel pada pukul 00.57 GMT, setelah sebelumnya melonjak 6,1%. Kontrak ini mencatat kenaikan selama sembilan hari berturut-turut.
Sementara itu, kontrak Brent Juli yang lebih aktif diperdagangkan berada di level US$111,38 per barel, naik 94 sen atau 0,85% setelah menguat 5,8% pada sesi sebelumnya.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni naik 63 sen atau 0,59% menjadi US$107,51 per barel, setelah sebelumnya melesat 7% dan mencatat kenaikan dalam delapan dari sembilan sesi terakhir.
Pasokan Tertekan, Konflik Belum Menemui Titik Terang
Kenaikan harga minyak dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Presiden AS Donald Trump telah berdiskusi dengan perusahaan minyak terkait langkah mitigasi jika blokade pelabuhan Iran berlangsung selama berbulan-bulan.
Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan, prospek penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih suram, termasuk kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.
“Prospek resolusi konflik Iran dalam waktu dekat atau pembukaan kembali Selat Hormuz masih sangat kecil,” ujarnya.
Sejak serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran membatasi sebagian besar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, kecuali untuk kapal miliknya sendiri.
Selat tersebut merupakan jalur penting bagi pasokan energi global dari Timur Tengah.
Pada bulan ini, AS juga mulai memblokade kapal-kapal Iran, memperparah gangguan distribusi minyak dunia.
OPEC+ dan Dinamika Pasokan Global
Di sisi lain, kelompok OPEC+ diperkirakan akan menyepakati kenaikan kecil produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari dalam pertemuan mendatang.
Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk mengimbangi gangguan pasokan akibat konflik. Terlebih, Uni Emirat Arab (UEA) resmi keluar dari OPEC mulai 1 Mei, yang berpotensi melemahkan kemampuan kelompok tersebut dalam mengendalikan harga.
Meski keluarnya UEA memberi ruang bagi negara tersebut untuk meningkatkan produksi setelah ekspor kembali normal, analis menilai dampaknya terhadap fundamental pasar tahun ini masih terbatas.
Analis Wood Mackenzie memperkirakan negara-negara Teluk, termasuk UEA, membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali ke tingkat produksi sebelum perang.
Dengan kondisi tersebut, pasar minyak global diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas tinggi dalam waktu dekat, terutama jika konflik terus berlarut dan jalur distribusi utama tetap terganggu.













