Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak naik pada hari ini karena kekhawatiran kebuntuan dalam perang AS-Israel melawan Iran akan terus mengganggu pasokan dari wilayah penghasil minyak utama di Timur Tengah dan memperketat pasokan global.
Kamis (20/8/2026) pukul 12.20 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Oktober 2026 naik 26 sen atau 0,28% menjadi US$ 91,87 per barel.
Sementara, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September 2026 menguat 17 sen menjadi US$ 86 per barel. Sedangkan, harga minyak WTI untuk kontrak pengiriman Oktober 2027 yang lebih aktif, naik 12 sen, atau 0,13% ke US$ 89,91 per barel.
Baik harga acuan Brent maupun WTI mengalami kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut pada hari ini, setelah ditutup pada di level tertinggi sejak 24 Juli pada Rabu (19/8/2026). Kontrak WTI September akan berakhir pada hari ini.
Baca Juga: Trump Kerahkan 4.500 Tentara di Washington, Efektivitasnya Dipertanyakan
"Harga minyak tetap tinggi karena pasar didukung oleh serangan sporadis di Timur Tengah tetapi kurang memiliki momentum baru tanpa eskalasi besar," kata Hiroyuki Kikukawa, kepala strategi Nissan Securities Investment, sebuah unit dari Nissan Securities.
"Pasar kemungkinan akan mempertahankan tren kenaikan bertahap mengingat ketidakpastian mengenai pembicaraan perdamaian dan ketegangan yang melibatkan Uni Emirat Arab, Oman, dan Iran," tambahnya.
Keputusan UEA untuk menangguhkan semua transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut telah memfokuskan kembali perhatian pada hubungan yang tegang antara produsen minyak utama Teluk Arab dan Iran.
Pada hari Selasa, Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang berlangsung dengan Iran dan bahwa Selat Hormuz terbuka. Namun, Iran mengatakan jalur air tersebut tetap tertutup.
Lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz pada hari Rabu tidak berubah dari hari sebelumnya karena diskusi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran tetap buntu, menurut data pengiriman terbaru.
Sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari, pengiriman yang setara dengan sekitar seperlima konsumsi global melewati jalur air tersebut, dengan arus saat ini jauh di bawah tingkat sebelum perang.
Baca Juga: AS Siapkan US$206 Juta untuk Pasukan Perdamaian Gaza
Perang tersebut juga berdampak pada pasokan bahan bakar olahan dan mengurangi persediaan karena ketersediaan minyak mentah yang lebih sedikit bagi kilang.
Persediaan bahan bakar distilat AS, termasuk diesel dan minyak pemanas, turun minggu lalu untuk minggu ketiga berturut-turut, kata Badan Informasi Energi pada hari Rabu.
Namun, persediaan minyak mentah naik sebesar 4,4 juta barel pada minggu yang berakhir pada 14 Agustus, dibandingkan dengan perkiraan penurunan sebesar 600.000 barel.













