Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia kembali menguat untuk hari ketiga berturut-turut pada Kamis (29/1/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran pasar bahwa Amerika Serikat (AS) dapat melancarkan serangan militer terhadap Iran, produsen utama minyak di Timur Tengah, yang berpotensi mengganggu pasokan global.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 50 sen atau 0,73% menjadi US$68,90 per barel pada pukul 02.16 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 58 sen atau 0,92% ke level US$63,79 per barel.
Baca Juga: Mata Uang Asia Terseret Pelemahan Kamis (29/1), Rupiah Paling Terpukul
Kedua kontrak tersebut telah naik sekitar 5% sejak 26 Januari dan berada di posisi tertinggi sejak 29 September.
Kenaikan harga minyak didorong oleh meningkatnya tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran agar menghentikan program nuklirnya, termasuk ancaman serangan militer.
Situasi kian memanas setelah satu kelompok kapal perang Angkatan Laut AS tiba di kawasan Timur Tengah.
Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), dengan produksi sekitar 3,2 juta barel per hari.
Baca Juga: Inggris–China Buka Babak Baru, Starmer Bertatap Muka dengan Xi Jinping
Reuters juga melaporkan, mengutip sumber-sumber pemerintah AS, bahwa Trump tengah mempertimbangkan sejumlah opsi untuk menyerang pasukan keamanan dan pimpinan Iran, dengan tujuan memicu protes yang berpotensi menggulingkan rezim yang berkuasa.
Analis Citi menilai meningkatnya risiko geopolitik telah menambah premi geopolitik pada harga minyak sekitar US$3–US$4 per barel. Jika eskalasi berlanjut, harga Brent berpotensi naik hingga US$72 per barel.
Selain faktor geopolitik, harga minyak juga mendapat dukungan dari penurunan tak terduga persediaan minyak mentah di AS, konsumen minyak terbesar dunia.
Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Januari.
Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan stok sebesar 1,8 juta barel.
Baca Juga: Dolar AS Masih Tertekan Kamis (29/1) Pagi, Pasar Waspadai Akumulasi Risiko Global
“Perkembangan ini mengindikasikan keseimbangan pasokan dan permintaan jangka pendek semakin ketat, mencerminkan permintaan kilang yang stabil serta terbatasnya pasokan yang tersedia di pasar,” ujar analis pasar XS.com, Linh Tran.
Citi memperkirakan harga minyak akan tetap berada di level tinggi dalam waktu dekat, didukung oleh meningkatnya risiko geopolitik, pembatasan AS terhadap pembelian minyak Rusia, serta berlanjutnya pembelian minyak oleh China, meski pasar memasuki tahun ini dengan ekspektasi terjadinya kelebihan pasokan.













