Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada hari pertama perdagangan tahun 2026, setelah mencatatkan penurunan tahunan terbesar sejak 2020.
Kenaikan terbatas ini didorong oleh serangan drone Ukraina terhadap fasilitas minyak Rusia serta tekanan ekspor Venezuela akibat sanksi Amerika Serikat.
Melansir Reuters Jumat (2/1/2026), harga minyak Brent naik 42 sen menjadi US$61,27 per barel pada Jumat pukul 07.14 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 42 sen ke level US$57,84 per barel.
Baca Juga: Samsung Is Back: Chip HBM4 Dipuji Pelanggan, Saham Ikut Ngebut
Rusia dan Ukraina saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru, meskipun pembicaraan damai yang diawasi Presiden AS Donald Trump terus berlangsung untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
Dalam beberapa bulan terakhir, Kyiv meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dengan tujuan memutus sumber pendanaan Moskow bagi operasi militernya di Ukraina.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Trump pada Rabu (1/1) menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan dan sejumlah kapal tanker yang disebut beroperasi di sektor minyak Venezuela.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington menekan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan berpotensi menghambat ekspor minyak negara tersebut.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Cetak Rekor di Awal 2026, Didorong Data Perdagangan Positif
Ketegangan geopolitik juga meningkat di Timur Tengah. Krisis antara produsen minyak OPEC, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terkait konflik di Yaman kian memanas setelah bandara Aden menghentikan penerbangan pada Kamis (2/1).
Situasi ini terjadi menjelang pertemuan virtual OPEC dan sekutunya (OPEC+) yang dijadwalkan pada 4 Januari 2026.
Pelaku pasar memperkirakan OPEC+ akan mempertahankan kebijakan penundaan kenaikan produksi pada kuartal pertama tahun ini.
“Tahun 2026 akan menjadi periode penting untuk menilai arah kebijakan OPEC+ dalam menyeimbangkan pasokan global,” kata analis senior Sparta Commodities, June Goh.
Ia menambahkan, China diperkirakan terus membangun cadangan minyak mentah pada paruh pertama 2026, yang dapat menjadi penopang harga minyak di pasar global.
Baca Juga: Pabrik-Pabrik Asia Tutup 2025 dengan Kinerja Menguat, Pesanan Mulai Pulih
Kerugian Besar Sepanjang 2025
Harga Brent dan WTI mencatatkan penurunan hampir 20% sepanjang 2025, menjadi kerugian tahunan terdalam sejak 2020. Kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan dan dampak tarif perdagangan global mengalahkan sentimen risiko geopolitik.
Bagi Brent, ini merupakan penurunan tahunan ketiga berturut-turut, rekor terpanjang sepanjang sejarah.
“Kami memperkirakan pergerakan harga Brent pada 2026 cenderung datar di kisaran US$60–65 per barel,” ujar analis energi DBS, Suvro Sarkar.
Menurutnya, kondisi fundamental pada kuartal pertama masih lemah dan ketegangan geopolitik hanya memicu kenaikan jangka pendek tanpa mengubah tren besar pasar.
Baca Juga: Kekayaan Elon Musk Tembus US$ 726 Miliar, Lampaui Ekonomi Belgia hingga Nilai Oracle
Analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menilai pergerakan harga yang terbatas mencerminkan tarik-menarik antara risiko geopolitik jangka pendek dan fundamental pasar jangka panjang yang masih menunjukkan potensi kelebihan pasokan menjelang pertemuan OPEC+.
Di Amerika Serikat, produksi minyak mencapai rekor tertinggi 13,87 juta barel per hari pada Oktober 2025, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA).
Pada pekan terakhir Desember, stok minyak mentah tercatat turun, sementara persediaan bensin dan distilat meningkat seiring aktivitas kilang yang tetap kuat.













