kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Huayou Cari Pendanaan US$2,7 Miliar Untuk Biayai Proyek Bersama Ford & Vale Indonesia


Minggu, 10 November 2024 / 17:23 WIB
ILUSTRASI. Kesepakatan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd (Huayou) untuk memulai pembangunan smelter High-Pressure Acid Leach (HPAL) untuk mengolah bijih nikel dari Blok Pomalaa di Kolaka, Sulawesi Tenggara.


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Zhejiang Huayou Cobalt Co, produsen nikel terbesar di dunia, dilaporkan sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah bank untuk mendapatkan pendanaan sekitar US$ 2,7 miliar atau setara dengan sekitar Rp 42,27 triliun.

Pendanaan ini diperlukan Huayou untuk membiayai proyek baterai berbasis nikel di Sulawesi Tenggara (Sulteng) bersama Ford Motor Co serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Melansir Bloomberg, Minggu (10/11), dua bank internasional, HSBC Holdings Plc dan Standard Chartered Plc sedang mengatur pinjaman dan mengundang bank lain untuk berpartisipasi dalam pembiayaan proyek tersebut.

Indonesia sampai saat ini tercatat sebagai penyumbang setengah dari produksi nikel dunia. Hal ini secara agresif telah menarik investasi asing dalam industri pengolahan dalam negeri selama sekitar satu dekade terakhir.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Pasok Bahan Bakar HVO untuk Vale Indonesia (INCO)

Adapun penggalangan dana ini dilakukan saat harga nikel acuan yang diperdagangkan mendekati level terendah dalam empat tahun terakhir. Selain itu permintaan melemah dari pasar baja tahan karat dan pertumbuhan yang lebih lambat dari perkiraan di sektor kendaraan listrik.

Untuk diketahui, kerja sama ketiganya dituangkan dalam pembangunan pabrik nikel, pabrik Pomalaa. Pabrik ini akan akan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) dengan target produksi nikel tahunannya mencapai 120.000 ton. Target produksi ini sekaligus akan menjadikan pabrik tersebut sebagai salah satu pabrik dengan produksi nikel terbesar di Asia Tenggara.

Adapun total investasi untuk proyek tersebut akan mencapai sekitar US$ 3,8 miliar. Persentase saham yang Huayou miliki sebesar 73,2%, PT Vale Indonesia 18,3%, dan Ford 8,5% dengan opsi untuk menaikkannya menjadi 17% dalam jangka waktu mendatang sesuai yang disepakati.

Sebelumnya, Huayou pada 2023 mengatakan bahwa pembangunan pabrik Pomalaa akan memakan waktu sekitar tiga tahun. Sedangkan, Vale Indonesia menargetkan Pomalaa bisa beroperasi pada tahun 2026 mendatang. 




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×