kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

IEA: Gangguan Selat Hormuz Bikin Defisit Pasokan Minyak Dunia Makin Parah


Rabu, 12 Agustus 2026 / 21:45 WIB
IEA: Gangguan Selat Hormuz Bikin Defisit Pasokan Minyak Dunia Makin Parah
ILUSTRASI. Harga Minyak Dunia (REUTERS/Dado Ruvic)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

​KONTAN.CO.ID - Pasokan minyak dunia diperkirakan mengalami penurunan lebih dalam pada 2026 seiring berlanjutnya gangguan di Timur Tengah dan belum adanya kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz.

Melansir Reuters Rabu (12/8/2026), Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan pasokan minyak global akan turun 4,3 juta barel per hari (bph) atau sekitar 4% pada tahun ini.

Baca Juga: Inflasi AS Naik Moderat pada Juli, Tapi Ekonomi Belum Sepenuhnya Aman dari Risiko

Proyeksi tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan penurunan 3,7 juta bph dalam laporan IEA pada Juli.

Dengan proyeksi tersebut, total pasokan minyak dunia diperkirakan hanya mencapai 102,02 juta bph, menjadi level terendah dalam proyeksi IEA untuk tahun ini.

IEA mengatakan, pasokan minyak global kini jauh berada di bawah permintaan akibat penutupan Selat Hormuz, blokade Amerika Serikat terhadap ekspor minyak Iran, serangan di Selat Bab el-Mandeb, serta penurunan ekspor minyak Kazakhstan melalui jalur CPC Blend.

Gangguan tersebut juga diperparah oleh serangan drone di Laut Hitam yang berdampak terhadap aktivitas ekspor.

"Pasokan minyak global telah turun jauh di bawah permintaan akibat penutupan Selat Hormuz, blokade AS terhadap ekspor Iran, serangan di Selat Bab el-Mandeb dan penurunan ekspor Kazakhstan CPC Blend," kata IEA dalam laporan bulanannya.

Baca Juga: Lionel Messi Berduka, Masa Depan Karier Sepak Bolanya Mulai Diragukan

Defisit Minyak Dunia Makin Lebar

Dengan kondisi tersebut, IEA memperkirakan pasar minyak dunia akan mengalami defisit sekitar 1,27 juta bph sepanjang 2026.

Defisit ini lebih besar dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 860.000 bph yang tercermin dalam laporan IEA Juli.

IEA juga memperkirakan defisit pasar minyak mencapai 1,8 juta bph pada periode Juli-September 2026. Proyeksi tersebut turun sekitar 1 juta bph dibandingkan perkiraan bulan sebelumnya.

Defisit kuartalan tersebut berpotensi menjadi yang terdalam sejak kuartal IV 2021.

Gangguan pasokan terutama terjadi di kawasan Timur Tengah. IEA mencatat pengiriman minyak dari kawasan tersebut sempat pulih menjadi sekitar 20 juta bph pada awal Juli, mendekati tingkat lalu lintas sebelum perang di Selat Hormuz.

Namun, volume tersebut kembali turun menjadi sekitar 12 juta bph pada akhir Juli.

Produksi minyak Timur Tengah pada Juli tercatat 8,3 juta bph di bawah level sebelum perang, meski kondisi tersebut masih lebih baik dibandingkan kehilangan produksi sebesar 14 juta bph pada puncak krisis.

"Pemulihan yang mulai terjadi sejak pertengahan Mei mempersempit defisit pasokan pada Juni, tetapi kembali pecahnya permusuhan mengganggu arus perdagangan," kata IEA.

Baca Juga: Iran-AS Masih Buntu, Selat Hormuz Terancam Kembali Picu Gejolak Harga Minyak

IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak

Selain memangkas proyeksi pasokan, IEA juga menurunkan perkiraan permintaan minyak dunia.

IEA kini memperkirakan permintaan minyak global pada 2026 turun 1,6 juta bph, lebih besar dibandingkan penurunan sekitar 1 juta bph yang diproyeksikan pada bulan sebelumnya.

Kenaikan harga minyak dan terbatasnya pasokan bahan bakar olahan disebut telah menekan konsumsi. Produk seperti nafta dan gasoil menjadi yang paling terdampak, sementara Asia dan Timur Tengah mencatat penurunan permintaan tahunan terbesar.

Pandangan IEA tersebut berbeda dengan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Dalam laporan terbarunya pada Rabu, OPEC masih memperkirakan permintaan minyak global tumbuh pada 2026, meski memangkas proyeksinya menjadi 580.000 bph, atau 200.000 bph lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Baca Juga: Trump Menyatakan Pesawatnya Lebih Berisiko Imbas Perubahan Penerbangan Rahasia

Pasokan Berpotensi Pulih pada 2027

Untuk 2027, IEA melihat kondisi yang jauh lebih longgar dengan asumsi ketegangan geopolitik mulai mereda dalam beberapa bulan mendatang.

IEA memperkirakan, pasokan minyak global dapat melebihi permintaan hingga 4,61 juta bph tahun depan.

Surplus tersebut berpotensi memungkinkan persediaan minyak dunia kembali ke level Februari 2026 pada pertengahan 2027.

Sejak perang Iran dimulai, persediaan minyak global telah terkuras sekitar 410 juta barel.

Namun, pemulihan tersebut sangat bergantung pada meredanya konflik dan kembali normalnya jalur perdagangan utama, terutama Selat Hormuz.

Baca Juga: Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Menyusut, Inflasi AS Naik Tipis Sesuai Ekspektasi

Di sisi lain, produksi minyak Rusia juga masih menghadapi tekanan. Aktivitas pengolahan minyak Rusia berada di sekitar 3,9 juta bph pada Juli, mendekati level terendah dalam 20 tahun setelah serangan drone Ukraina menghantam sejumlah kilang di wilayah barat Pegunungan Ural.

Produksi minyak Rusia juga turun sekitar 100.000 bph menjadi 8,76 juta bph pada Juli, berada di bawah target yang ditetapkan OPEC+.

IEA mencatat pengolahan minyak mentah global turun sekitar 5 juta bph secara tahunan pada Juli.

Keterbatasan kapasitas pengolahan membuat gangguan pasokan semakin terasa dan mendorong margin kilang minyak ke level tertinggi sepanjang masa.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×