Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Pasar obligasi global mengalami aksi jual pada perdagangan Selasa (1/9/2026), mendorong imbal hasil obligasi ke level tertinggi baru.
Kenaikan harga minyak akibat kembali memanasnya konflik di Timur Tengah turut menekan pasar saham dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Melansir Reuters, Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun, yang menjadi acuan harga berbagai aset global, naik 2,2 basis poin menjadi 4,78%. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam hampir 20 bulan.
Baca Juga: Aktivitas Pabrik China Menguat pada Agustus, PMI Naik Jadi 51,5
Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun mendekati level 3%, atau tingkat yang belum terlihat dalam satu generasi.
Kenaikan yield terjadi seiring harga minyak Brent menembus US$ 91 per barel di perdagangan Asia.
Kembali pecahnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar obligasi karena dapat mengurangi ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga atau bahkan mendorong pengetatan kebijakan moneter.
"Komposisi makro ekonomi menjadi semakin menantang bagi aset berdurasi panjang dan aset berisiko," kata Wee Khoon Chong, APAC Macro Strategist di BNY.
Menurut dia, kebijakan moneter yang hawkish, risiko geopolitik dan inflasi yang kembali meningkat, serta kekhawatiran fiskal secara bersamaan mendorong kenaikan premi jangka panjang dan yield obligasi tenor panjang.
Baca Juga: Industri Manufaktur Australia Masih Ekspansif, Pesanan Baru Tercepat Sejak Januari
Pasar Tunggu Data Tenaga Kerja AS
Pasar saham juga bergerak dengan hati-hati menjelang rilis data tenaga kerja AS pada Jumat (4/9). Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Kontrak berjangka saham AS relatif stabil setelah indeks utama Wall Street melemah tipis pada perdagangan sebelumnya.
Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pada pekan lalu telah mengubah ekspektasi pasar. Warsh mengisyaratkan bahwa bank sentral AS dapat mengambil langkah pengetatan apabila tekanan harga tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.
Saat ini, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga pada September di Amerika Serikat dan Jepang memiliki peluang lebih dari 50%.
Baca Juga: Bursa Australia Tertekan Selasa (1/9), Sektor Teknologi dan Konsumer Jadi Beban
Pasar juga memperkirakan kenaikan suku bunga di Selandia Baru pada Rabu (2/9) serta kenaikan suku bunga di Eropa pada pekan depan.
Di pasar saham Asia, indeks Nikkei Jepang turun 0,2% pada awal perdagangan, sedangkan Hang Seng Hong Kong melemah 0,7%.
Sentimen di Hong Kong turut dipengaruhi debut saham Shein Global yang kurang menggembirakan. Saham perusahaan ritel fesyen cepat tersebut turun pada awal perdagangan hingga sedikit di bawah harga penawaran.
Shein menghadapi tekanan akibat perubahan tarif dan bea masuk di Amerika Serikat dan Eropa yang menggerus salah satu pilar utama model bisnis berbiaya rendah perusahaan tersebut.
Dolar AS Belum Banyak Diuntungkan
Kenaikan biaya pinjaman yang terjadi secara global hanya memberikan dukungan terbatas terhadap dolar AS.
Euro relatif stabil di US$ 1,1619, sedangkan yen berada di level 159,76 per dolar AS. Investor juga menunggu data awal inflasi Eropa yang akan dirilis pada Selasa.
Baca Juga: Indeks KOSPI Reli Ditopang Ekspor Chip Korea Selatan yang Didorong AI Terus Tumbuh
Di pasar komoditas lainnya, harga gas acuan Eropa ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari 3,5 tahun pada Senin.
Risiko geopolitik masih menjadi latar belakang utama pasar. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran setelah kedua negara kembali terlibat dalam pertukaran serangan untuk pertama kalinya dalam sebulan.
Sementara itu, eskalasi perang Rusia-Ukraina turut mendorong harga gandum mendekati level tertinggi dalam hampir tiga tahun.














