Ini lima poin pidato Trump soal rudal Iran: Salahkan Obama hingga kritik NATO

Kamis, 09 Januari 2020 | 14:33 WIB Sumber: USA Today
Ini lima poin pidato Trump soal rudal Iran: Salahkan Obama hingga kritik NATO

ILUSTRASI. Presiden Donald Trump memberi pidato tanggapan atas serangan rudal Iran ke pangkalan militer AS.


KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berpidato di Gedung Putih memberi tanggapan atas serangan selusin rudal Iran ke pangkalan militer Irak yang menjadi markas pasukan AS dan pasukan koalisi.

Trump mengatakan tidak ada warga Irak atau AS yang terluka dalam tersebut. Ia juga memberi isyarat bahwa AS terbuka untuk negosiasi dan mengurangi ketegangan dengan Iran.

Baca Juga: Dunia mulai meragukan legalitas serangan drone AS yang tewaskan Soleimani

Serangan rudal itu sebagai tanggapan Iran terhadap serangan udara militer AS yang menewaskan pemimpin militer Iran Qasem Soleimani, akhir pekan lalu.

Berikut lima poin pidato Trump yang dirangkum dari USA Today:
 
1. AS akan menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran.

Trump mengatakan Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.

"Ketika kami terus mengevaluasi opsi dalam menanggapi agresi Iran, AS akan segera mengenakan sanksi ekonomi tambahan hukuman pada rezim Iran," kata Trump. "Sanksi kuat ini akan tetap sampai Iran mengubah perilakunya."

Baca Juga: AS tunda larangan lisensi untuk ekspor uranium tingkat bom selama 2 tahun

Trump menuduh Iran menebar teror di negara-negara Timur Tengah lainnya. "Iran telah merebut kapal-kapal di perairan internasional, menembakkan serangan tidak beralasan ke Arab Saudi dan menembak jatuh dua pesawat tak berawak AS."

2. Siap berdamai dengan semua yang mencari perdamaian

Trump mengisyaratkan dia terbuka untuk bernegosiasi dengan Iran. Dia mengajukan tawaran serupa setelah menarik diri dari perjanjian nuklir multinasional pada 2018 silam.

"Iran tampaknya akan mundur, yang merupakan hal yang baik untuk semua pihak terkait dan hal yang sangat baik bagi dunia," kata Trump, Rabu (8/1).

Dia mengatakan Iran harus mengubah perilakunya. Trump berharap sanksi ekonomi akan memotivasi Iran untuk bekerja sama.

Baca Juga: Soal pembunuhan Soleimani, Trump: AS telah membunuh seorang monster

Trump menggembar-gemborkan kekuatan militer AS. "Rudal kami besar, kuat, akurat, mematikan, dan cepat. Banyak rudal hipersonik yang sedang dikembangkan," ujarnya.

Kata Trump, fakta bahwa AS memiliki militer dan peralatan yang hebat ini, tidak berarti AS harus menggunakannya. "Kami tidak ingin menggunakannya. Kekuatan Amerika, baik militer maupun ekonomi, adalah pencegah terbaik."

Ia juga memberi pesan ke pemimpin Iran. "Kami ingin Anda memiliki masa depan dan masa depan yang hebat - yang layak Anda dapatkan, salah satu kemakmuran di rumah dan harmoni dengan negara-negara di dunia. Amerika Serikat siap untuk merangkul perdamaian dengan semua siapa yang mencarinya," imbuh Trump.

3. Mendesak negara lain untuk menarik diri dari perjanjian nuklir dengan Iran

Trump meminta Inggris, Jerman, Prancis, Rusia dan China untuk memutuskan perjanjian nuklir Iran 2015 untuk menegosiasikan perjanjian baru.

"Dunia yang beradab harus mengirim pesan yang jelas dan terpadu ke rezim Iran: Kampanye teror, pembunuhan, kekacauan Anda tidak akan ditoleransi lagi. Itu tidak akan diizinkan untuk maju," tandas Trump.

Dia berulang kali mengkritik kesepakatan nuklir dengan Iran tersebut. Trump mengumumkan pada 2018 bahwa Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian tersebut.

Baca Juga: Trump: AS akan kenakan sanksi baru yang powerful atas Iran setelah serangan rudal

"Kita juga harus membuat kesepakatan yang memungkinkan Iran untuk berkembang dan makmur dan mengambil keuntungan dari potensi yang sangat besar yang belum dimanfaatkan. Iran bisa menjadi negara yang hebat," kata Trump.

4. Trump menyalahkan pendanaan pemerintahan Obama ke Iran

Trump menghubungkan ketegangan AS-Iran, serta agresi yang didukung Iran, dengan kesepakatan nuklir yang dinegosiasikan selama masa pemerintahan Presiden Barack Obama.

"Permusuhan dengan Iran secara substansial meningkat setelah kesepakatan nuklir Iran yang bodoh ditandatangani pada 2013, dan mereka diberi US$ 150 miliar, belum lagi US$ 1,8 miliar tunai. Alih-alih mengatakan 'terima kasih' ke Amerika Serikat, mereka meneriakkan, 'Matilah Amerika ," kata Trump Trump.

Trump menekankan pemerintahan Obama memberi Iran miliaran bantuan moneter, tetapi dana senilai US$ 150 miliar yang diterima Iran bukanlah hadiah.

Baca Juga: Mencermati sejumlah sinyal konflik AS-Iran tidak berlanjut ke perang terbuka

Setelah perjanjian nuklir ditandatangani di masa pemerintahan Obama, Iran diizinkan untuk mengakses asetnya sendiri yang dibekukan.

Provokasi besar terjadi setelah Trump menarik diri dari perjanjian nuklir, termasuk jatuhnya pesawat tak berawak AS.

Trump mengatakan serangan rudal yang diluncurkan oleh Iran pada Selasa didanai oleh uang yang sama yang diperoleh dari AS.

"Rudal yang ditembakkan tadi malam pada kami dan sekutu kami dibayar dengan dana yang disediakan oleh pemerintahan terakhir," katanya.

Penasihat keamanan nasional era Obama, Susan Rice dalam wawancara dengan MSNBC menyebut klaim Trump itu bentuk kebohongan.

"Iran telah memiliki rudal canggih ini. Mereka telah mengembangkan kapasitas mereka selama bertahun-tahun," katanya. "Untuk mengatakan bahwa uang yang mendanai serangan terhadap personel kami dan di pangkalan kami adalah jenis kebohongan yang paling memalukan. ”

5. AS akan meminta lebih banyak keterlibatan NATO di Timur Tengah

Trump mengeluhkan tentang kontribusi yang tidak proporsional dari Amerika Serikat dalam pertahanan militer untuk sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Baca Juga: Usai serangan rudal, Amerika Serikat waspada serangan siber Iran

Trump akan meminta NATO untuk menjadi lebih terlibat dalam proses di Timur Tengah. "Selama tiga tahun terakhir, di bawah kepemimpinan saya, ekonomi kita lebih kuat dari sebelumnya, dan Amerika telah mencapai kemandirian energi. Prestasi bersejarah ini mengubah prioritas strategis kami," tandas Trump.

Halaman   1 2 3 Tampilkan Semua
Editor: Khomarul Hidayat

Terbaru