kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45760,32   20,32   2.75%
  • EMAS1.009.000 0,70%
  • RD.SAHAM -1.08%
  • RD.CAMPURAN -0.40%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Ini sebab angka kematian Covid-19 Singapura paling rendah di dunia


Kamis, 17 September 2020 / 15:09 WIB
Ini sebab angka kematian Covid-19 Singapura paling rendah di dunia
ILUSTRASI. Tes swab pekerja migran di Singapura

Sumber: Reuters | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Singapura memiliki jumlah kematian kasus virus corona terendah secara global. Negeri Merlion ini hanya mencatat 27 kematian di antara lebih dari 57.000 orang yang telah terinfeksi Covid-19.

Menurut data Reuters, tingkat kematian Singapura yang sebesar 0,05% jauh di bawah rata-rata global sekitar 3% dari negara-negara yang mencatat lebih dari 1.000 kasus. Perbandingan dengan negara-negara dengan jumlah populasi yang sama menunjukkan perbedaan yang mencolok. Tingkat kematian Denmark sekitar 3% dan Finlandia sekitar 4%.

Menurut data Kementerian Kesehatan Singapura, tidak ada yang meninggal akibat penyakit Covid-19 selama lebih dari dua bulan. Pakar penyakit terkemuka di Singapura mengatakan bahwa berikut ini adalah faktor utama di balik fenomena tersebut:

DEMOGRAFI INFEKSI

Sekitar 95% dari infeksi COVID-19 Singapura terjadi di antara pekerja migran, sebagian besar berusia 20-an atau 30-an, tinggal di asrama yang sempit dan bekerja di sektor padat karya seperti konstruksi dan pembuatan kapal.

Sementara parameter penyakit terus dipelajari seiring dengan perkembangan pandemi, tren global saat ini menunjukkan bahwa dampaknya tidak terlalu parah bagi orang yang lebih muda, banyak di antaranya menunjukkan sedikit atau tanpa gejala.

Baca Juga: Sekelompok negara kaya borong lebih dari 50% dosis vaksin virus corona

DETEKSI

Singapura telah berhasil mengurangi penyebaran virus melalui deteksi dini menggunakan pelacakan dan pengujian kontak agresif yang mendapat pujian dari Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO).

Singapura telah menguji swab hampir 900.000 orang, lebih dari 15% dari 5,7 juta populasi. Angka ini merupakan salah satu pengujian per kapita tertinggi secara global.

Penghuni asrama telah menjalani tes rostered. Pihak berwenang telah melakukan pengujian massal di antara komunitas yang rentan seperti panti jompo dan siapa pun yang berusia di atas 13 tahun dengan tanda-tanda infeksi saluran pernapasan akut ditawarkan tes gratis.

"Semakin banyak kami mendiagnosis, maka semakin rendah angka kematiannya," kata Hsu Li Yang dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di National University of Singapore.

Baca Juga: Simak 7 cara mudah agar tidak mudah jatuh sakit selama pandemi



TERBARU

[X]
×