kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.753   44,00   0,25%
  • IDX 6.525   7,36   0,11%
  • KOMPAS100 852   3,39   0,40%
  • LQ45 644   2,00   0,31%
  • ISSI 229   -0,13   -0,06%
  • IDX30 360   1,47   0,41%
  • IDXHIDIV20 443   4,53   1,03%
  • IDX80 97   0,33   0,34%
  • IDXV30 124   2,23   1,83%
  • IDXQ30 115   0,70   0,62%

Iran Masih Buka Jalur Diplomasi, Harga Minyak Dunia Terangkat


Senin, 31 Agustus 2026 / 19:45 WIB
Iran Masih Buka Jalur Diplomasi, Harga Minyak Dunia Terangkat
ILUSTRASI. Presiden Iran Masoud Pezeshkian (via REUTERS/Irans Presidential website/WANA)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran masih membuka peluang penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat (AS) melalui jalur perundingan meski kedua negara kembali terlibat aksi saling serang.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan, Teheran tetap menginginkan solusi melalui negosiasi. Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah AS dan Iran kembali terlibat permusuhan untuk pertama kalinya sejak akhir Juli 2026.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Bangkit Senin (31/8), Saham Semikonduktor Jadi Andalan Investor

Eskalasi tersebut turut mendorong harga minyak dunia melonjak lebih dari 3,5% karena meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

“Namun demikian, kami masih berupaya mencapai kesepakatan dan pemahaman, dan kami meyakini bahwa melanjutkan perang bukanlah kepentingan siapa pun, baik bagi kami, kawasan, maupun umat manusia,” kata Pezeshkian seperti dikutip kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, Senin (31/8/2026).

Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut saat berbicara dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela pertemuan keamanan regional di Kyrgyzstan.

Dia menuduh AS gagal memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan sebelumnya. Meski demikian, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran masih berupaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

“Kami meyakini solusi terhadap masalah yang ada adalah dialog dan kerja sama, dan setiap kapasitas harus digunakan untuk mencegah meluasnya ketidakamanan dan konflik,” ujarnya.

Baca Juga: Nikkei Anjlok 1,97% Senin (31/8), Ini Biang Kerok yang Bikin Bursa Jepang Tertekan

Saling Serang

Pernyataan Pezeshkian muncul setelah pasukan AS pada Minggu (30/8) menyerang dua peluncur milik Iran di Pulau Larak, sekitar 660 kilometer sebelah timur Pulau Kharg.

Seorang pejabat AS mengatakan serangan tersebut dilakukan setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terpantau bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau laut ke Selat Hormuz.

Serangan di Pulau Larak menewaskan dua orang dan melukai sejumlah lainnya, menurut kantor berita Iran IRNA yang mengutip pernyataan gubernur setempat.

Baca Juga: Mata Uang Asia Tertekan, Rupiah Melemah di Tengah Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed

Iran kemudian melancarkan serangan terhadap dua pangkalan militer AS di Yordania, menurut laporan media Iran. Militer Iran juga menyatakan telah menyerang Pangkalan Udara Al Minhad di Uni Emirat Arab (UEA).

Namun, Kementerian Pertahanan UEA membantah laporan tersebut. UEA kemudian menyatakan angkatan udaranya telah menghadapi sebuah drone yang berasal dari Iran di atas perairan teritorial negara tersebut.

Iran juga mengklaim pasukannya berhasil menembak jatuh sebuah drone AS yang kemudian jatuh di perairan Teluk.

Di sisi lain, televisi pemerintah Iran melaporkan sebuah supertanker terbakar dan berhenti beroperasi setelah terkena dua ranjau laut di bagian selatan Selat Hormuz.

IRGC menyebut kapal tersebut berupaya melintasi jalur perairan secara ilegal, tetapi tidak memberikan rincian mengenai identitas kapal maupun awaknya.

Baca Juga: Ini Proyeksi Yuan China dari Bank Global hingga Akhir 2026

Isu Pulau Kharg

Ketegangan juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengunggah video yang diklaim menunjukkan Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak utama Iran, hancur akibat serangan.

Trump mengunggah video tersebut melalui platform Truth Social dengan pesan yang menyebut Pulau Kharg “dihancurkan berkeping-keping”.

Namun, Reuters mengonfirmasi video tersebut kemungkinan besar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Tidak ada bukti bahwa serangan seperti yang ditampilkan dalam video tersebut benar-benar terjadi.

Seorang pejabat AS juga mengatakan militer AS tidak menargetkan Pulau Kharg dalam serangan pada malam sebelumnya.

Pimpinan perusahaan minyak milik pemerintah Iran, National Iranian Oil Co (NIOC), Hamid Bovard, menepis unggahan Trump tersebut.

“Unggahan Trump menggelikan dan kondisi di Kharg tenang dan sesuai,” kata Bovard, seperti dikutip Nournews, media semi-resmi yang dekat dengan badan keamanan tertinggi Iran.

Menurut Bovard, kegiatan operasional minyak di Pulau Kharg tidak berhenti. Para pekerja bahkan masih melakukan perbaikan atas kerusakan sebelumnya sekaligus memodernisasi fasilitas.

Pulau Kharg memiliki peran strategis bagi ekspor minyak Iran. Sebelum perang yang dimulai melalui serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, fasilitas tersebut menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran.

Baca Juga: Dolar AS Menguat, Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan di Awal Pekan

Risiko Selat Hormuz

Serangan di Pulau Larak juga meningkatkan perhatian terhadap keamanan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Selat Hormuz biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pengiriman minyak mentah global. Namun, jalur tersebut secara efektif telah terblokir sejak perang dimulai.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan, serangan terhadap pasukan peletak ranjau Iran dilakukan secara terbatas dan presisi karena dianggap menimbulkan ancaman yang segera terjadi di Selat Hormuz.

AS menyebut pasukan IRGC terpantau bersiap menempatkan ranjau laut di jalur strategis tersebut.

Trump sebelumnya mengatakan seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah diledakkan atau disingkirkan. Ia juga memperingatkan Iran bahwa setiap kapal yang kembali menempatkan ranjau akan dihancurkan.

Iran membantah klaim tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Naik 2%, Konflik AS-Iran Kembali Memanas di Selat Hormuz

Tekanan Ekonomi

Selain tekanan militer, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui sanksi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Reuters bahwa sanksi sekunder baru kemungkinan akan diumumkan setiap pekan. Fokus awal sanksi tersebut diperkirakan menyasar sektor perbankan.

Uni Eropa juga menyatakan akan terus bekerja sama dengan AS dan pihak lainnya untuk mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Sejauh ini, Trump belum mencapai seluruh tujuan yang ditetapkannya pada awal perang, termasuk membongkar program nuklir Iran, membatasi kemampuan Iran menyerang rival-rivalnya di kawasan, serta menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan ulama.

Di tengah tekanan tersebut, Iran tetap menyatakan membuka ruang diplomasi.

Baca Juga: AS Gempur Peluncur Roket Iran, Teheran Balas Tembak Rudal ke Yordania

Pezeshkian menegaskan bahwa perang berkepanjangan tidak memberikan keuntungan bagi Iran maupun kawasan. Dialog dan kerja sama, menurut dia, tetap menjadi jalan untuk mencegah konflik meluas.

Bagi pasar energi global, perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama. Setiap eskalasi yang mengganggu lalu lintas kapal tanker berpotensi kembali mengerek harga minyak dunia dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×