Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Isu Pulau Kharg
Ketegangan juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengunggah video yang diklaim menunjukkan Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak utama Iran, hancur akibat serangan.
Trump mengunggah video tersebut melalui platform Truth Social dengan pesan yang menyebut Pulau Kharg “dihancurkan berkeping-keping”.
Namun, Reuters mengonfirmasi video tersebut kemungkinan besar dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Tidak ada bukti bahwa serangan seperti yang ditampilkan dalam video tersebut benar-benar terjadi.
Seorang pejabat AS juga mengatakan militer AS tidak menargetkan Pulau Kharg dalam serangan pada malam sebelumnya.
Pimpinan perusahaan minyak milik pemerintah Iran, National Iranian Oil Co (NIOC), Hamid Bovard, menepis unggahan Trump tersebut.
“Unggahan Trump menggelikan dan kondisi di Kharg tenang dan sesuai,” kata Bovard, seperti dikutip Nournews, media semi-resmi yang dekat dengan badan keamanan tertinggi Iran.
Menurut Bovard, kegiatan operasional minyak di Pulau Kharg tidak berhenti. Para pekerja bahkan masih melakukan perbaikan atas kerusakan sebelumnya sekaligus memodernisasi fasilitas.
Pulau Kharg memiliki peran strategis bagi ekspor minyak Iran. Sebelum perang yang dimulai melalui serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, fasilitas tersebut menangani sekitar 90% ekspor minyak Iran.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan di Awal Pekan
Risiko Selat Hormuz
Serangan di Pulau Larak juga meningkatkan perhatian terhadap keamanan Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.
Selat Hormuz biasanya menjadi jalur bagi sekitar seperlima pengiriman minyak mentah global. Namun, jalur tersebut secara efektif telah terblokir sejak perang dimulai.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan, serangan terhadap pasukan peletak ranjau Iran dilakukan secara terbatas dan presisi karena dianggap menimbulkan ancaman yang segera terjadi di Selat Hormuz.
AS menyebut pasukan IRGC terpantau bersiap menempatkan ranjau laut di jalur strategis tersebut.
Trump sebelumnya mengatakan seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah diledakkan atau disingkirkan. Ia juga memperingatkan Iran bahwa setiap kapal yang kembali menempatkan ranjau akan dihancurkan.
Iran membantah klaim tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Naik 2%, Konflik AS-Iran Kembali Memanas di Selat Hormuz
Tekanan Ekonomi
Selain tekanan militer, pemerintahan Trump terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui sanksi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Reuters bahwa sanksi sekunder baru kemungkinan akan diumumkan setiap pekan. Fokus awal sanksi tersebut diperkirakan menyasar sektor perbankan.
Uni Eropa juga menyatakan akan terus bekerja sama dengan AS dan pihak lainnya untuk mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Iran.
Sejauh ini, Trump belum mencapai seluruh tujuan yang ditetapkannya pada awal perang, termasuk membongkar program nuklir Iran, membatasi kemampuan Iran menyerang rival-rivalnya di kawasan, serta menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan ulama.
Di tengah tekanan tersebut, Iran tetap menyatakan membuka ruang diplomasi.
Baca Juga: AS Gempur Peluncur Roket Iran, Teheran Balas Tembak Rudal ke Yordania
Pezeshkian menegaskan bahwa perang berkepanjangan tidak memberikan keuntungan bagi Iran maupun kawasan. Dialog dan kerja sama, menurut dia, tetap menjadi jalan untuk mencegah konflik meluas.
Bagi pasar energi global, perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama. Setiap eskalasi yang mengganggu lalu lintas kapal tanker berpotensi kembali mengerek harga minyak dunia dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.














