Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran menolak usulan Oman untuk menerapkan pengelolaan bersama Selat Hormuz, sehingga memupus harapan tercapainya solusi atas kebuntuan yang telah menghambat perdagangan di kawasan Teluk selama beberapa bulan terakhir.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Rabu (29/7/2026) bahwa Teheran tidak akan menerima proposal Oman yang mengusulkan pengelolaan bersama jalur pelayaran strategis tersebut.
Sebelumnya, Oman mengajukan kesepakatan regional baru untuk meredakan konflik di Selat Hormuz, jalur yang sebelum serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Namun, Teheran menilai proposal pengelolaan bersama tersebut tidak memiliki peluang untuk berhasil.
Pejabat Iran tersebut menuduh AS dan Arab Saudi berupaya menekan Oman agar mendorong "rencana mereka yang tidak realistis" terkait Selat Hormuz.
Iran juga menegaskan bahwa seluruh jalur masuk menuju Selat Hormuz serta sebagian jalur keluar harus berada di bawah kendali Iran.
Baca Juga: Pemilu Israel Digelar 27 Oktober 2026, Ini Peta Persaingan Netanyahu dan Penantangnya
Menurut pejabat itu, skema pembagian kendali 50:50 dengan Oman tidak akan menguntungkan kepentingan nasional Iran, meskipun Teheran tetap memandang Oman sebagai negara tetangga yang penting.
Garda Revolusi Iran Klaim Serang Tiga Kapal Tanker
Di tengah meningkatnya ketegangan, Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Rabu mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz dan memaksa kapal-kapal tersebut berhenti setelah disebut mengabaikan peringatan karena menggunakan "jalur yang tidak aman dan melanggar hukum."
Angkatan Laut IRGC dalam pernyataannya menyebut masih memegang kendali penuh atas jalur perairan strategis tersebut.
IRGC juga memperingatkan bahwa "campur tangan militer Amerika Serikat yang melanggar hukum" maupun instruksi yang diberikan kepada kapal-kapal di kawasan tidak akan dibiarkan tanpa respons.
Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi klaim yang disampaikan IRGC tersebut.
Harga Minyak Dunia Melonjak
Meningkatnya eskalasi konflik kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Harga minyak naik lebih dari US$ 3 per barel pada perdagangan Rabu seiring kembali meningkatnya serangan di kawasan Timur Tengah.
Pada hari yang sama, AS dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak. Kedua negara menuding kelompok tersebut bertanggung jawab atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.
Iran membalas tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa menyalahkan Teheran atas serangan-serangan itu merupakan "kesalahan perhitungan yang sangat besar."
Serangan AS dan Arab Saudi di Irak bagian timur terjadi hanya beberapa jam setelah militer AS mengklaim berhasil menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan Amerika di kawasan tersebut.
Baca Juga: Gempa Dahsyat Guncang Jepang, Ledakan Mal di Kumamoto Tewaskan Tiga Orang
Sementara itu, IRGC mengumumkan telah menembakkan beberapa rudal balistik ke instalasi militer AS di Yordania.
Militer Yordania kemudian menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menembak jatuh lima rudal Iran yang mengarah ke wilayah kerajaan tersebut.
Gencatan Singkat Berakhir
Rangkaian serangan balasan dalam beberapa hari terakhir mengakhiri jeda singkat dalam konflik, setelah Presiden AS Donald Trump secara tiba-tiba menghentikan kampanye pengeboman selama dua pekan dan Iran tampak melakukan langkah serupa.
Pada Selasa (28/7), Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghancurkan sejumlah drone yang menargetkan fasilitas minyak di Provinsi Timur.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi Turki al-Maliki mengatakan serangan tersebut diluncurkan oleh milisi yang didukung Iran dari wilayah Irak.
Belakangan pada hari yang sama, Komando Pusat AS (CENTCOM) bersama Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan telah menyerang sejumlah lokasi di Irak timur yang disebut digunakan Iran untuk mengoordinasikan serangan drone.
Di sisi lain, Popular Mobilisation Forces (PMF) Irak menyatakan sejumlah markas resminya di berbagai wilayah Irak diserang oleh pasukan AS dan Arab Saudi.
PMF menyebut laporan awal menunjukkan beberapa orang tewas, sejumlah lainnya terluka, serta terjadi kerusakan pada sejumlah gedung dan fasilitas milik mereka.
Seorang pejabat pertahanan Iran dalam wawancara dengan televisi pemerintah membantah keras adanya keterlibatan Teheran dalam proyektil yang ditembakkan dari negara lain ke sasaran di Arab Saudi.
Pejabat militer yang tidak disebutkan namanya itu, sebagaimana dikutip televisi pemerintah IRIB, kembali menegaskan bahwa mengaitkan berbagai serangan terhadap kepentingan AS di kawasan dengan Iran merupakan "kesalahan perhitungan yang sangat besar."
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Anjlok Dua Hari Beruntun, Demam AI Berubah Jadi Aksi Jual Besar
Oman Usulkan Pengelolaan Bersama Selat Hormuz
Sebagai upaya meredakan konflik, Oman sebelumnya telah menyampaikan proposal yang didukung negara-negara Teluk kepada Iran untuk mengelola Selat Hormuz secara bersama.
Menurut sumber dari negara Teluk dan seorang diplomat Barat yang mengetahui pembahasan tersebut, proposal itu mencakup mekanisme pengumpulan iuran sukarela dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Dalam skema yang diajukan Oman, Iran tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang mengendalikan selat tersebut, sementara pembayaran iuran oleh kapal bersifat sukarela.
Model tersebut disebut serupa dengan mekanisme di Selat Malaka, di mana Indonesia, Malaysia, dan Singapura meminta kontribusi sukarela dari kapal-kapal untuk mendanai layanan navigasi, perlindungan lingkungan, serta operasi pencarian dan penyelamatan.
Iran secara efektif menutup Selat Hormuz setelah AS dan Israel menyerang negara itu pada 28 Februari.
Kesepakatan antara AS dan Iran pada bulan lalu sempat membuka kembali sebagian akses pelayaran di Selat Hormuz dan membuka peluang pembicaraan lanjutan mengenai berbagai isu, termasuk program nuklir Iran.
Namun, kesepakatan tersebut runtuh pada awal Juli setelah Iran menembaki kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran yang tidak diakui oleh Teheran.














