Jepang bakal menghapus kendaraan berbahan bakar bensin pada 2035

Jumat, 25 Desember 2020 | 13:10 WIB Sumber: Reuters
Jepang bakal menghapus kendaraan berbahan bakar bensin pada 2035

ILUSTRASI. Warga memakai masker pelindung menunggu pergantian lampu lalu lintas di penyebrangan Shibuya, di tengah penyebaran penyakit virus korona (COVID-19), di Tokyo, Jepang, Jumat (16/10/2020. REUTERS/Issei Kato


KONTAN.CO.ID - TOKYO. Pemerintah Jepang berniat menghilangkan kendaraan bertenaga bensin dalam 15 tahun ke depan. Ini adalah bagian dari rencana untuk mencapai emisi karbon nol.

"Strategi pertumbuhan hijau", yang menargetkan industri hidrogen dan otomotif, dimaksudkan sebagai rencana aksi untuk mencapai janji Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga untuk menghilangkan emisi karbon secara bersih pada pertengahan abad ini.

Suga telah menjadikan investasi hijau sebagai prioritas utama untuk membantu menghidupkan kembali ekonomi yang dilanda pandemi COVID-19 dan untuk membawa Jepang sejalan dengan Uni Eropa, China, dan ekonomi lain yang menetapkan target emisi yang ambisius.

Baca Juga: Rusia segera terima rudal Strela-10M baru, mampu hantam helikopter dan rudal jelajah

Pemerintah akan menawarkan insentif pajak dan dukungan keuangan lainnya kepada perusahaan, dan menargetkan 90 triliun yen atau setara US$ 870 miliar per tahun dalam pertumbuhan ekonomi tambahan melalui investasi.

Rencana tersebut berupaya untuk mengganti penjualan kendaraan bertenaga bensin dengan kendaraan listrik, termasuk kendaraan hybrid dan sel bahan bakar, pada pertengahan 2030-an.

Untuk mempercepat penyebaran kendaraan listrik, pemerintah menargetkan pengurangan biaya baterai kendaraan lebih dari setengahnya menjadi 10.000 yen per kilowatt hour pada tahun 2030. 

Baca Juga: Di Turki, vaksin Sinovac China terbukti efektif 91,25%

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan konsumsi hidrogen menjadi 3 juta ton pada tahun 2030 dan menjadi sekitar 20 juta ton pada tahun 2050 dari saat ini 200 ton sekarang.

Selanjutnya: Alibaba Group tersandung kasus dugaan monopoli, otoritas China investigasi

 

Editor: Tendi Mahadi
Tag

Terbaru