kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%

Jika Kamala Harris Gantikan Joe Biden, Dapatkah Dia Mengalahkan Donald Trump?


Senin, 08 Juli 2024 / 14:36 WIB
ILUSTRASI. emakin banyak anggota Partai Demokrat di Kongres AS yang meminta Presiden AS Joe Biden menghentikan upayanya untuk terpilih kembali sebagai Presiden. REUTERS/Kevin Lamarque


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Beberapa Waktu belakangan, semakin banyak anggota Partai Demokrat di Kongres AS yang meminta Presiden AS Joe Biden menghentikan upayanya untuk terpilih kembali sebagai Presiden. 

Tekanan tersebut setelah petahana berusia 81 tahun itu berpenampilan buruk dalam debat melawan rivalnya dari Partai Republik, Donald Trump.

Mengutip Reuters, menurut para petinggi Partai Demokrat, Wakil Presiden AS Kamala Harris akan menjadi pengganti Biden jika akhirnya dia tunduk pada tekanan yang semakin besar dan mengundurkan diri sebagai kandidat dari Partai Demokrat pada pemilu 2024.

Kini para donor, aktivis, dan pejabat partai bertanya: Apakah Harris punya peluang lebih baik dibandingkan Biden untuk mengalahkan Donald Trump? 

Sementara itu, Biden telah berulang kali mengatakan bahwa dia akan tetap ikut dalam pencalonan.

Harris, 59 tahun, mantan senator AS dan jaksa agung California, akan menjadi perempuan pertama yang menjadi presiden AS jika ia menjadi calon dari partai Demokrat dan menang dalam pemilu 5 November. 

Harris adalah orang Afrika-Amerika dan Asia pertama yang menjabat sebagai wakil presiden di Amerika.

Baca Juga: Joe Biden Tolak Mundur dari Pencalonan, Anggota Partai Demokrat Dilema

Masa jabatannya di Gedung Putih selama 3,5 tahun ditandai dengan awal yang buruk, pergantian staf, dan portofolio kebijakan awal termasuk migrasi dari Amerika Tengah yang tidak membuahkan keberhasilan besar.

Pada tahun lalu, banyak pihak di Gedung Putih dan tim kampanye Biden secara pribadi khawatir bahwa Harris adalah pihak yang menjadi beban dalam kampanye tersebut. 

Namun menurut pejabat Partai Demokrat, situasi telah berubah secara signifikan, ketika Harris melangkah maju dalam memperjuangkan hak aborsi dan mendekati pemilih muda.

"Dia bangga menjadi pasangan Biden dan berharap dapat mendampinginya selama empat tahun lagi,” kata tim kampanye Biden Harris kepada Reuters.

Beberapa jajak pendapat mendukung Harris

Jajak pendapat yang dilakukan baru-baru ini menunjukkan bahwa Harris dapat memberikan hasil yang lebih baik daripada Biden dalam melawan Trump, meskipun ia akan menghadapi persaingan yang ketat.

Jajak pendapat CNN yang dirilis pada 2 Juli menunjukkan bahwa pemilih lebih menyukai Trump dibandingkan Biden dengan selisih enam persentase poin, atau 49% berbanding 43%. 

Harris juga membuntuti Trump, 47% hingga 45%.

Survei tersebut juga menemukan bahwa pemilih independen mendukung Harris dengan dukungan 43%-40% dibandingkan Trump, dan pemilih moderat di kedua partai lebih memilih Harris dengan dukungan 51%-39%.

Baca Juga: Para Donatur Partai Demokrat Minta Joe Biden Mundur dari Pemilu AS

Jajak pendapat Reuters/Ipsos setelah debat di televisi pekan lalu antara Trump dan Biden menunjukkan bahwa Harris dan Trump hampir seimbang, dengan 42% mendukung Harris dan 43% mendukung Trump.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×