kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.957   -16,00   -0,09%
  • IDX 6.029   145,19   2,47%
  • KOMPAS100 784   20,86   2,73%
  • LQ45 593   15,00   2,59%
  • ISSI 209   5,74   2,82%
  • IDX30 336   8,84   2,70%
  • IDXHIDIV20 412   9,41   2,34%
  • IDX80 89   2,31   2,66%
  • IDXV30 112   2,85   2,62%
  • IDXQ30 108   2,88   2,74%

Kelompok negara G7 pertimbangkan upaya untuk melawan propaganda Rusia dan China


Senin, 03 Mei 2021 / 05:50 WIB
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengadakan pertemuan bilateral selama KTT G7 di Biarritz, Prancis, 25 Agustus 2019.


Sumber: Reuters | Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

KONTAN.CO.ID - LONDON. Kelompok negara kaya Group of Seven (G7) saat ini sedang mempertimbangakan mekanisme baru untuk melawan propaganda dan disinformasi Rusia.

Kepada Reuters, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan, Inggris mengajak mitra G7 untuk bersama-sama menyusun mekanisme perlawanan dengan cepat.

"Ketika kita melihat kebohongan dan propaganda atau berita palsu disebarluaskan, kita harus bersatu untuk memberikan sanggahan dan secara terus terang untuk memberikan kebenaran, untuk orang-orang di negara ini tetapi juga di Rusia atau China, atau di seluruh dunia," ungkap Raab.

Baca Juga: Joe Biden: Militer AS akan tetap hadir di kawasan Indo-Pasifik!

Menurut diplomat Inggris tersebut, Rusia dan China telah mencoba menabur ketidakpercayaan di Barat, baik dengan menyebarkan disinformasi dalam pemilu atau dengan menyebarkan kebohongan tentang vaksin Covid-19.

Inggris juga telah secara tegas melihat Rusia sebagai ancaman terbesar bagi keamanannya. Di sisi lain, Inggris juga melihat China sebagai tantangan jangka panjang terbesarnya secara militer, ekonomi, dan teknologi.

Pihak Rusia sempat merespons kekhawatiran tersebut dengan menyebut negara-negara Barat kini dikurung oleh histeria anti-Rusia.

"Pikirkan mengapa negara-negara yang muak dengan propaganda, justru menggunakannya sendiri untuk membenarkan intervensi bersenjata dan menggulingkan pemerintah," ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Korea Utara menyatakan kebijakan Biden menunjukkan niat AS untuk bermusuhan




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×