kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.107   -22,97   -0,32%
  • KOMPAS100 961   -5,51   -0,57%
  • LQ45 687   -4,03   -0,58%
  • ISSI 257   -1,74   -0,67%
  • IDX30 379   -2,57   -0,67%
  • IDXHIDIV20 465   -6,38   -1,35%
  • IDX80 108   -0,59   -0,55%
  • IDXV30 136   -1,32   -0,96%
  • IDXQ30 121   -1,18   -0,97%

Kenaikan Harga Energi akibat Konflik Timur Tengah Ancam Pemulihan Konsumsi Global


Senin, 27 April 2026 / 18:24 WIB
Kenaikan Harga Energi akibat Konflik Timur Tengah Ancam Pemulihan Konsumsi Global
ILUSTRASI. Lonjakan harga energi memukul industri, siap picu kenaikan harga barang konsumsi. Cek dampaknya pada dompet Anda sekarang! (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemulihan permintaan konsumen global yang sebelumnya mulai terlihat rapuh kini kembali terancam. Lonjakan harga energi dan komoditas akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu tekanan baru terhadap industri barang konsumsi, dengan potensi kenaikan harga yang dapat menghambat pertumbuhan permintaan.

Sejumlah perusahaan multinasional mulai merasakan dampaknya. Raksasa barang konsumen asal Amerika Serikat, Procter & Gamble, memperingatkan potensi penurunan laba hingga sekitar US$1 miliar pada tahun fiskal 2027. Kenaikan harga minyak mentah disebut menjadi faktor utama yang meningkatkan biaya kemasan, bahan plastik, hingga logistik.

Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa guncangan harga minyak global mulai menekan margin keuntungan perusahaan dan mendorong potensi kenaikan harga di berbagai sektor.

“Inflasi di sektor makanan, energi, kesehatan, dan berbagai area pengeluaran lainnya telah berdampak pada konsumen dan cara mereka menilai nilai suatu produk,” ujar Chief Financial Officer P&G, Andre Schulten. Ia menambahkan bahwa perkembangan geopolitik terbaru telah meningkatkan kekhawatiran tersebut ke level yang lebih tinggi.

Tekanan terhadap Konsumen Global

Perubahan kondisi ekonomi membuat perilaku konsumen global semakin tidak stabil. Perusahaan kini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Perang Iran Picu Lonjakan Harga Pupuk, Produksi Pangan Global Terancam

Schulten menyebut bahwa pola konsumsi berubah setiap hari dan diperkirakan akan mengalami perubahan yang lebih intens dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Sementara itu, laporan kinerja sejumlah perusahaan makanan dan minuman seperti Nestlé dan Danone menunjukkan adanya pertumbuhan volume penjualan pada kuartal pertama setelah periode stagnasi panjang. Namun, analis menilai pemulihan ini masih rentan jika perusahaan kembali menaikkan harga untuk mengimbangi biaya produksi.

“Perusahaan barang konsumsi akan berusaha keras meneruskan kenaikan biaya, tetapi mereka mungkin akan kesulitan,” ujar Kepala Pasar AJ Bell, Dan Coatsworth.

Strategi Harga dan Daya Tawar Perusahaan Diuji

Sejumlah perusahaan mulai menerapkan strategi lindung nilai (hedging) untuk menahan dampak kenaikan biaya jangka pendek. Danone, misalnya, mempercepat program efisiensi untuk menghadapi volatilitas pasar.

Di sisi lain, Reckitt melaporkan bahwa konflik telah mulai memengaruhi kinerja bisnisnya di kawasan Timur Tengah. Perusahaan juga mencatat adanya pergeseran konsumen ke produk merek pribadi (private label) yang lebih murah.

CEO Reckitt, Kris Licht, menyebut bahwa meski permintaan di kategori inti masih stabil, visibilitas kinerja untuk paruh kedua tahun ini masih terbatas.

Perusahaan besar lainnya seperti Unilever, Coca-Cola, Kimberly-Clark, dan Mondelez International dijadwalkan akan melaporkan kinerja kuartalan mereka dalam waktu dekat. Investor menantikan petunjuk mengenai dampak kenaikan biaya energi terhadap margin keuntungan mereka.

Baca Juga: The Fed Bersiap Gelar Rapat Penting, Arah Suku Bunga Kian Tak Pasti

Perubahan Pola Belanja Konsumen

Perusahaan minuman Keurig Dr Pepper mencatat bahwa konsumen masih cenderung beralih ke produk dalam merek yang sama namun dengan harga lebih rendah, bukan sepenuhnya meninggalkan merek utama. Hal ini mendorong perusahaan untuk lebih agresif dalam strategi promosi.

Menurut analis pasar dari eToro, Zavier Wong, perusahaan kini menghadapi dilema antara mempertahankan harga atau membiarkan volume penjualan menjadi penopang utama pertumbuhan.

“Pilihan ini akan semakin sulit jika harga energi terus meningkat sepanjang tahun,” ujarnya.

Kenaikan harga minyak dan gas telah mendorong inflasi di Eropa dan Amerika Serikat, menambah tekanan terhadap rumah tangga yang baru mulai pulih dari krisis biaya hidup pascapandemi.

Analis menilai perusahaan yang paling siap menghadapi situasi ini adalah mereka yang telah melakukan lindung nilai lebih awal serta memiliki produk yang tetap dibutuhkan konsumen tanpa banyak substitusi.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×