Sumber: New York Times | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - ISTANBUL. Pemerintah Turki pada hari Minggu menyatakan pihaknya melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap pemerintah Suriah.
Hal ini menandakan untuk pertama kalinya pernyataan perang secara terbuka terhadap pemerintah Bashar al-Assad dan secara tajam meningkatkan keterlibatan Ankara dalam perang yang telah berjalan sembilan tahun di Suriah.
Baca Juga: Makin panas, Turki sudah hancurkan 8 helikopter, 103 tank, 72 peluncur roket Suriah
Dilansir dari New York Times, pengumuman itu dikeluarkan tiga hari setelah Turki menderita kerugian militer terburuk dalam satu serangan perang, dengan sedikitnya 36 tentara tewas dan lebih dari 30 lainnya cedera dalam serangan udara dan artileri Suriah dan Rusia.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bersumpah akan melakukan pembalasan dan menuntut agar pasukan Suriah menarik diri melampaui batas de-eskalasi yang telah disepakati sebelumnya.
Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar, mengumumkan serangan balasan di televisi dalam sebuah pernyataan yang didistribusikan oleh kantor berita Anadolu yang dikelola pemerintah.
Ia mengatakan bahwa operasi di Suriah utara dimaksudkan untuk mengakhiri perang dan menghentikan serangan pemerintah Suriah yang menggusur ribuan warga Suriah.
Baca Juga: Militer Turki tembak jatuh dua jet tempur Suriah, konflik di Idlib kian panas
"Semua upaya kami terutama untuk memastikan gencatan senjata, untuk mencegah migrasi dan menghentikan aliran darah," kata Akar.
"Dan dengan hal itu untuk membawa kedamaian, perdamaian dan stabilitas ke wilayah ini sesegera mungkin," ungkapnya.
Meskipun dia mengatakan bahwa unjuk kekuatan tidak ditujukan terhadap Rusia, yang mendukung pemerintahan Tuan al-Assad secara militer, Akar juga meminta Rusia untuk bertanggung jawab atas serangan terhadap pasukan Turki.
"Kami tidak bermaksud untuk menghadapi Rusia. Satu-satunya tujuan kami di sana adalah menghentikan pembantaian oleh rezim," katanya.
Baca Juga: Rusia dan Turki saling mengancam dengan pengerahan kekuatan militer di Suriah
Seorang pejabat Turki menyebut Erdogan akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Kamis di Moskow. Sebelumnya pada hari Minggu, Moskow memperingatkan bahwa mereka tidak dapat menjamin keamanan pesawat Turki di atas Suriah.
Peningkatan kekuatan Turki terjadi ketika pasukan Presiden al-Assad berupaya merebut kembali wilayah yang dikuasai pemberontak Suriah yakni Provinsi Idlib.
Serangan itu telah mendorong hampir satu juta penduduk menuju perbatasan dengan Turki. Banyak dari pengungsi yang tinggal di tenda atau tidur di tempat terbuka di udara yang sangat dingin.
Baca Juga: Rusia dan Turki berhadap-hadapan, ini peringatan dari NATO