Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Sumber yang mengetahui negosiasi perdagangan mengatakan China menginginkan perpanjangan gencatan lebih lama dibandingkan yang ingin diberikan pemerintahan Trump. China juga meminta kepastian terkait investigasi AS yang masih berjalan, yang berpotensi menghidupkan kembali tarif atas barang masuk AS yang sebelumnya dibatalkan Mahkamah Agung tahun ini.
Secara keseluruhan, tidak banyak yang ditawarkan kedua pihak dalam pertemuan puncak ini, kata sumber tersebut, seraya menambahkan sebagian kesepakatan komersial bisa saja disimpan untuk musim gugur, ketika Xi diperkirakan melakukan kunjungan balasan ke Gedung Putih.
Sumber itu meminta identitasnya dirahasiakan agar bisa berbicara secara terbuka mengenai pembicaraan tersebut.
Hasil komersial yang tipis dari pertemuan ini kontras dengan kunjungan Trump ke China pada 2017, ketika perusahaan-perusahaan yang ikut serta menandatangani kesepakatan dan nota kesepahaman senilai US$ 250 miliar.
Pertemuan pekan ini tidak menghasilkan terobosan soal penjualan chip kecerdasan buatan H200 buatan Nvidia ke China. Hal ini kemungkinan melegakan kelompok garis keras anti-China dari Partai Republik maupun Demokrat di Washington, yang sebelumnya memperingatkan pemerintah agar tidak membantu perkembangan AI China.
Meski belum dikonfirmasi, Trump mengatakan Boeing telah menutup kesepakatan pembelian 200 pesawat oleh China, jauh di bawah angka 500 yang sebelumnya diantisipasi dan juga lebih rendah dibanding 300 pesawat yang disepakati Beijing dalam kunjungan 2017.
Tonton: Rupiah Tertekan, Komisi XI DPR Minta BI & Pemerintah Gerak Cepat Cegah Inflasi Impor
Pejabat Gedung Putih mengatakan AS telah membentuk Dewan Perdagangan baru (Board of Trade) sebagai mekanisme bersama untuk menurunkan tarif barang non-sensitif, namun tidak memberikan rincian.
Wendy Cutler, mantan pejabat U.S. Trade Representative, menyebut hasil ekonomi tersebut “jauh di bawah ekspektasi.”
Namun bagi China, pertemuan ini merupakan langkah positif menuju persaingan yang lebih realistis, kata Cui Shoujun, profesor hubungan internasional di Renmin University, Beijing.
Ia mengatakan pertemuan ini menunjukkan bahwa Washington dan Beijing “tidak lagi berupaya mengembalikan hubungan AS-China ke masa keemasan kerja sama, melainkan mengakui bahwa persaingan dan perbedaan akan bersifat jangka panjang.”
Tabel: Hasil Utama KTT Trump-Xi di Beijing (Mei 2026)
| Isu | Posisi/Permintaan AS | Sikap/Keuntungan China | Hasil Pertemuan |
|---|---|---|---|
| Perang dagang | Ingin tekanan tarif memaksa konsesi | Menahan tekanan, balas tarif & ancam mineral kritis | Gencatan rapuh berlanjut, belum diperpanjang |
| Tarif “Liberation Day” | Pernah memicu eskalasi | Kini situasi lebih stabil | Tidak ada eskalasi baru |
| Overkapasitas industri China | AS ingin China mengurangi produksi berlebih | China tidak menunjukkan perubahan | Tidak dibahas secara terbuka |
| Mineral kritis | AS khawatir pasokan terganggu | China punya leverage | Tetap jadi kartu tawar Beijing |
| Teknologi AI (Nvidia H200) | Ada potensi penjualan chip | Washington hawkish menolak | Tidak ada terobosan |
| Kesepakatan Boeing | Trump klaim China beli 200 pesawat | Lebih rendah dari ekspektasi | Masih belum terkonfirmasi |
| Ekspor pertanian AS | AS dorong pembelian produk pertanian | China bisa gunakan sebagai konsesi terbatas | Ada kesepakatan perluasan ekspor |
| Mekanisme baru | Board of Trade untuk turunkan tarif non-sensitif | China dapat stabilitas kebijakan | Dibentuk, detail minim |
| Konflik Iran | AS ingin China bantu tekan Iran | China tidak memberi komitmen publik | Tidak ada hasil nyata |
| Penilaian analis | Hasil “di bawah ekspektasi” | China dapat stabilitas dan prediktabilitas | Kebuntuan tetap bertahan |













