kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45806,19   -5,40   -0.67%
  • EMAS1.055.000 -0,94%
  • RD.SAHAM -0.34%
  • RD.CAMPURAN -0.11%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.02%

Lewat Twitter, Trump mengingatkan China, dia bakal lebih keras dalam bernegosiasi


Selasa, 03 September 2019 / 20:56 WIB
Lewat Twitter, Trump mengingatkan China, dia bakal lebih keras dalam bernegosiasi
ILUSTRASI. Presiden AS Donald Trump

Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, pembicaraan perdagangan antara AS dan China berjalan dengan baik. Meski begitu, Trump memperingatkan, dia bakal "lebih keras" dalam negosiasi jika Tiongkok melanjutkan perang dagang sampai masa jabatan keduanya.

"Kami melakukan dengan sangat baik dalam negosiasi dengan China," tulis Trump di akun Twitter-nya, Selasa (3/9), seperti dikutip Reuters. Ia menyebutkan, pembicaraan berjalan baik karena Beijing tidak mampu untuk menarik kakinya dalam perundingan, mengingat penerapan tarif baru AS berdampak pada ekonominya.

Trump menyatakan, jika AS dan China tidak menyelesaikan perselisihan perdagangan dan dia memenangkan Pemilihan Presiden 2020, maka “Kesepakatan akan tercipta LEBIH KERAS! Sementara itu, Rantai Pasokan China akan hancur dan bisnis, pekerjaan, dan uang akan hilang!"

Baca Juga: Penasihat Beijing: China sudah melakukan berbagai cara, kini semua terserah Trump

Sebelumnya, Wang Huiyao, Penasihat Pemerintah China, menuturkan, saat ini terserah pada Trump, apakah ingin mengakhiri perang dagang dan mencapai kata sepakat dengan Tiongkok atau sebaliknya.

Menurut Wang, China sudah melakukan seluruh upaya, termasuk mengeluarkan undang-undang baru tentang investasi asing pada Maret lalu, untuk menyelesaikan sejumlah masalah yang komunitas pebisnis asing keluhkan.

Baca Juga: Perang dagang makin sulit ditebak ujungnya

Pendiri sekaligus Presiden Center for China and Globalization ini juga menguraikan kepada CNBC, undang-undang terbaru itu memaksa penerapan transfer teknologi dari pebisnis asing di China dan merupakan langkah untuk melindungi properti intelektual.

Wang menjelaskan, undang-undang tersebut akan memberikan posisi yang sama bagi perusahaan luar negeri dengan perusahaan domestik. Ini merupakan solusi dari hal yang menjadi perhatian pemerintah AS.

"Tidak realistis untuk mengubah seluruh hukum di China. Tidak ada satu pun negara yang bisa melakukan itu. Namun, kami bisa mengeluarkan undang-undang baru. Jadi, saya rasa ada hal yang bisa digarap di sini, yang merupakan solusi dari hal yang menjadi perhatian pemerintah AS," papar Wang.

Dan, meski dalam proses perundingan, China mengajukan gugatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Senin (2/9), terhadap langkah AS yang mengenakan tarif 15% atas produk mereka.

Kementerian Perdagangan China tidak mengungkapkan secara perinci keberatan yang Tiongkok ajukan ke WTO. Tapi mereka mengatakan, tarif AS berdampak atas ekspor China ke negeri uak Sam senilai US$ 300 miliar.

Baca Juga: AS terapkan tarif baru, China gugat ke WTO

Mulai 1 September 2019, AS mengenakan tarif 15% pada berbagai barang China termasuk alas kaki, jam tangan pintar, dan televisi layar datar. Sementara China menerapkan bea baru 5% pada minyak mentah AS.

Menurut Kementerian Perdagangan China, tindakan Washington yang memberlakukan tarif terbaru tersebut melanggar konsensus yang sudah pemimpin China dan AS capai dalam pertemuan di Osaka, Jepang. "China akan mempertahankan hak-hak hukumnya sesuai dengan aturan WTO," kata mereka dalam pernyataan yang dilansir Reuters.

Gugatan tersebut adalah yang ketiga Beijing ajukan untuk menantang kebijakan tarif khusus Presiden AS Donald Trump di WTO.



TERBARU

[X]
×