Masuk Daftar Hitam AS, SenseTime Tetap Gelar IPO dan Incar Dana Hingga US$ 767 Juta

Senin, 20 Desember 2021 | 09:00 WIB   Reporter: Adrianus Octaviano, Anna Suci Perwitasari
Masuk Daftar Hitam AS, SenseTime Tetap Gelar IPO dan Incar Dana Hingga US$ 767 Juta

ILUSTRASI. rencana IPO SenseTime


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan rintisan Artificial Intelligence (AI) asal China, SenseTime Group, kembali menjalankan rencana untuk menggelar penawaran umum saham perdana atawa initial public offering (IPO). Perusahaan menargetkan dapat mengumpulkan dana hingga US$ 767 juta dalam aksi korporasi tersebut.

Senin (20/12), berdasarkan data pengajuan peraturan, SenseTime menetapkan harga awal IPO dalam kisaran HK$ 3,85 hingga $HK 3,99. Perusahaan akan menetapkan harga akhir IPO pada Kamis (23/12).

SenseTime diketahui akan tetap menawarkan 1,5 miliar saham dalam rencana go public ini.

Rencana ini dilakukan, setelah seminggu sebelumnya SenseTime masuk dalam daftar hitam investasi Amerika Serikat (AS). Sebelumnya SenseTime mengatakan sangat menentang penetapan daftar hitam dan tuduhan terhadapnya tidak berdasar.

Baca Juga: Cetak Rekor Tertinggi di 2021, IPO di Asia Diperkirakan Tak Lagi Ramai di Tahun Depan

Departemen Keuangan AS menambahkan SenseTime ke daftar hitam yang berjudul "Perusahaan China yang memiliki hubungan kompleks dengan industri militer".

SenseTime dituduh telah mengembangkan program pengenalan wajah untuk menentukan etnis target, dengan fokus mengidentifikasi etnis Uyghur.

"Produk dan layanan grup kami ditujukan untuk penggunaan sipil dan komersial dan bukan untuk aplikasi militer apa pun," kata SenseTime dalam pengajuan revisi pada hari Senin.

Dalam prospektusnya yang diperbarui, SenseTime juga menjelaskan bahwa larangan investasi tidak membatasi operasi bisnis perusahaan. Tetapi, SenseTime menambahkan, kurangnya investor AS yang potensi dapat menghambat kemampuan perusahaan untuk meningkatkan modal di masa depan dan mengurangi likuiditas perdagangan.

Rencananya, saham SenseTime akan mulai diperdagangkan di Bursa Efek Hong Kong pada 30 Desember mendatang.

Editor: Anna Suci Perwitasari

Terbaru