kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Menjalankan hidup sehat sebagai pondasi perusahaan (3)


Sabtu, 28 September 2019 / 09:25 WIB

Menjalankan hidup sehat sebagai pondasi perusahaan (3)

KONTAN.CO.ID - Lim Wee Chai memasang target hidup selama 120 tahun dan tetap bisa bekerja dengan gagah hingga usia 90 tahun. Ia yakin target itu bisa tercapai dengan lima kunci, yakni bersih, menjaga pola makan, bekerja dengan baik, olahraga teratur, dan tidur nyenyak. Dengan resep kelima hal itu, ia yakin akan tetap sehat dalam menjalakan perusahaannya. Fisik yang sehat itu akan membawa jiwa yang kuat sebagai modal utama menjalankan perusahaan dengan baik.

Menjalankan perusahaan multinasional besar dengan pendapatan sekitar RM 4,21 miliar per tahun bukanlah hal yang mudah. Hidup sehat merupakan fondasi bagi Lim Wee Chai dalam menjalankan perusahaa dengan baik. Dengan sehat secara fisik maka akan menghasilkan mental yang baik yang jadi modal utama memberikan kontribusi positif ke perusahaan.

Lim terkenal dengan kedisiplinan dalam menjaga kesehatan. Di sela jadwal kerjanya yang sibuk, pria berusia 61 tahun ini selalu mengalokasikan waktunya secara teratur untuk melakukan olahraga setiap hari. Ia memilih bermain bulutangkis dan golf masing-masing dua kali sepekan, serta berlatih yoga sepekan sekali.

Gaya hidup sehat diterapkan Lim dengan sangat baik. Selain untuk bisa menjalankan perusahaan dengan baik, hidup sehat diterapkan ayah dua anak ini guna mencapai targetnya bisa bertahan hidup sampai 120 tahun dan masih gagah bekerja sampai usia 90 tahun.

Lim percaya rahasia sehat dan umur panjang dapat ditemukan dalam lima sumur berkualitas yaitu bersih, menjaga pola makan, bekerja dengan baik, olahraga teratur, dan tidur nyenyak. Jika setia pada lima sumur tersebut, dia yakin seseorang bisa hidup sampai 120 tahun bahkan lebih.

Di samping rutin menggeluti tiga jenis olahraga tadi, Lim juga selalu makan makanan sehat secara teratur, dan tidur tujuh jam sehari adalah suatu keharusan baginya. Gaya hidup sehat itu sudah dia mulai sejak pertama kali mendirikan Top Glove pada tahun 1991 silam.

Lim juga mengaitkan kesehatannya yang baik sampai saat itu tidak lepas dari kedisiplinan menyikat gigi tiga kali sehari. Dengan teratur membersihkan gigi maka dapat membantu meminimalkan bakteri jahat di mulut yang jadi sumber awal berbagai penyakit.

Sebelumnya, Lim sering menderita sakit tenggorokan. Namun, setelah teratur menyikat gigi tiga kali sehari dan mengubah pola makan dengan lebih banyak mengkonsumsi sayuran, ia sudah tidak pernah lagi mengeluhkan hal yang sama.

Dalam berbagai kesempatan, Lim selalu mengatakan bahwa pekerjaannya hanyalah hobi yang sangat dia sukai. Tugasnya adalah olahraga, sedangkan kekayaan terletak pada kesehatannya.

Lim juga menularkan gaya hidup sehatnya ke dalam perusahaan. Semua staf di Top Glove diberikan produk perawatan gigi gratis untuk mendorong kebiasaan sehat. Lalu, perusahaanya juga menerapkan kebijakan bebas rokok, bahkan ada mandat yang jelas untuk tidak mempekerjakan perokok.

Karyawan Top Glove selalu didorong untuk menerapkan hidup sehat. Sebab hanya dengan sehatlah mereka bisa berkontribusi positif kepada perusahaan. Sehat secara fisik maka akan membawa mental lebih sehat juga. Dengan begitu, karyawan akan bertindak dengan jujur, memiliki integritas dan transparansi dalam bekerja. Ketiganya merupakan etika bisnis yang dijalankan Lim dalam membangun bisnisnya.

Kini, Top Glove semakin besar sebagai produsen sarung tangan karet. Merangkak dari perusahaan manufaktur kecil di Malaysia menjadi perusahaan multinasional saat ini yang telah menguasai 25% pangsa pasar global.

Meski sudah mengoperasikan lebih dari 40 pabrik dengan total 682 jalur produksi di Malaysia, Thailand, dan China, Lim tidak berhenti melakukan ekspansi bisnis. Dia masih terus mencari peluang untuk menancapkan kaki di negara-negara lain.

Seiring dengan ekspansi itu, pundi-pundi kekayaan Lim juga terus bertambah. Forbes mencatat, total kekayaan pengusaha asal negeri Jiran mencapai US$ 1,2 miliar.

(Bersambung)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Editor: Tri Adi
Video Pilihan


×