kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.890.000   -66.000   -2,23%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Negosiasi Nuklir Iran-AS Digelar di Oman, Risiko Eskalasi Militer Membayangi


Jumat, 06 Februari 2026 / 19:21 WIB
Negosiasi Nuklir Iran-AS Digelar di Oman, Risiko Eskalasi Militer Membayangi
ILUSTRASI. Iran - Amerika Serikat (AS) (via REUTERS/Majid Asgaripour)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Iran dan Amerika Serikat (AS) memulai perundingan krusial di Oman pada Jumat (6/2/2026) melalui mediasi pemerintah Oman, di tengah meningkatnya risiko konfrontasi militer terkait program nuklir Teheran.

Perundingan ini bertujuan menjembatani perbedaan tajam kedua negara mengenai isu nuklir Iran.

Namun, perselisihan soal perluasan agenda pembahasan berpotensi menggagalkan diplomasi dan memicu konflik baru di Timur Tengah.

Baca Juga: AS Dorong Perjanjian Pengendalian Senjata Nuklir Baru Usai New START Berakhir

Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa perundingan belum resmi dimulai, meskipun tuntutan Iran telah disampaikan kepada pihak AS melalui Oman.

Menurutnya, negosiasi tidak langsung kemungkinan baru akan dimulai setelah pertemuan antara negosiator utama AS dan Menteri Luar Negeri Oman.

Seperti perundingan sebelumnya, pembahasan Iran-AS dilakukan dengan pendekatan diplomasi bolak-balik (shuttle diplomacy).

Meski kedua pihak menyatakan kesiapan menghidupkan kembali diplomasi terkait sengketa nuklir Iran dengan Barat, Washington ingin memperluas pembahasan hingga mencakup program rudal balistik Iran, dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan, serta isu hak asasi manusia. Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu (5/2).

Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis, Tapi Berada di Jalur Penurunan untuk Pekan Ini

Iran secara tegas menolak pembahasan soal program rudalnya yang merupakan salah satu arsenal terbesar di Kawasan dan menuntut pengakuan atas haknya memperkaya uranium.

Namun bagi Washington, aktivitas pengayaan uranium di dalam wilayah Iran merupakan garis merah yang tidak dapat ditoleransi.

Sumber diplomatik Iran memperingatkan bahwa kehadiran pejabat militer AS atau Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pembicaraan dapat merusak proses negosiasi nuklir tidak langsung di Oman.

Iran menginginkan pertemuan terbatas antara Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi dan utusan khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dengan fokus eksklusif pada isu nuklir.

Menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, yang sebelumnya berperan dalam mediasi gencatan senjata Gaza, juga dijadwalkan ikut terlibat dalam diskusi.

Baca Juga: Permintaan EV China Anjlok Tak Terduga, BYD Terpukul!

Tekanan Militer AS Meningkat

Kepemimpinan Iran tetap khawatir Presiden Donald Trump akan menindaklanjuti ancamannya untuk menyerang Iran, seiring peningkatan kehadiran militer Angkatan Laut AS di sekitar kawasan Teluk.

Pada Juni lalu, AS menyerang fasilitas nuklir Iran dalam fase akhir kampanye pengeboman Israel selama 12 hari. Iran kemudian menyatakan aktivitas pengayaan uraniumnya telah dihentikan.

Pengerahan kekuatan laut AS yang disebut Trump sebagai “armada besar” terjadi setelah pemerintah Iran melakukan penindakan keras terhadap aksi protes nasional bulan lalu, sehingga semakin memperuncing ketegangan dengan Washington.

Trump memperingatkan bahwa “hal-hal buruk” kemungkinan akan terjadi jika kesepakatan gagal dicapai. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa AS memiliki banyak opsi selain diplomasi.

Sementara itu, Rusia sebagai sekutu Iran menyatakan harapannya agar perundingan menghasilkan deeskalasi dan meminta semua pihak menahan diri.

Iran sendiri telah memperingatkan bahwa negara-negara Teluk Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS dapat menjadi sasaran jika terlibat dalam serangan terhadap Teheran.

Baca Juga: Kirin Jual Four Roses, Fokus ke Bisnis Kesehatan

Program Rudal Jadi Garis Merah

Negosiasi di Oman dihadapkan pada penolakan tegas Iran untuk membahas program rudal balistiknya. Iran menegaskan tidak akan berunding mengenai kemampuan pertahanannya, termasuk rudal dan jangkauannya.

Sebagai sinyal sikap keras, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa rudal balistik jarak jauh paling canggih, Khorramshahr-4, telah ditempatkan di salah satu “kota rudal” bawah tanah milik Garda Revolusi Iran.

Namun demikian, Iran disebut bersedia menunjukkan fleksibilitas dalam isu pengayaan uranium, termasuk menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya tinggi dan menerima skema pengayaan nol melalui pengaturan konsorsium internasional.

Iran juga menuntut pencabutan sanksi yang kembali diberlakukan sejak 2018, saat Presiden Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015.

AS, sekutu Eropanya, dan Israel menuding Iran menggunakan program nuklir sebagai kedok untuk mengembangkan senjata nuklir.

Baca Juga: Emas dan Perak Menguat dalam Perdagangan yang Bergejolak, CME Kerek Margin

Tuduhan tersebut dibantah Iran yang menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyamakan ancaman program nuklir dan rudal Iran sebagai “dua kanker” bagi keamanan kawasan.

Pengaruh Iran di Timur Tengah sendiri dilaporkan melemah signifikan setelah kelompok-kelompok sekutunya yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan” mengalami pukulan berat sejak konflik Hamas-Israel di Gaza pada 2023 dan runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah.

Selanjutnya: Purbaya Lantik 43 Pejabat Eselon II Kemenkeu, Ini Daftar Lengkapnya

Menarik Dibaca: Sambut Imlek, Genki Sushi Hadirkan 3 Menu dengan Harga Spesial




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×