Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
Tekanan Militer AS Meningkat
Kepemimpinan Iran tetap khawatir Presiden Donald Trump akan menindaklanjuti ancamannya untuk menyerang Iran, seiring peningkatan kehadiran militer Angkatan Laut AS di sekitar kawasan Teluk.
Pada Juni lalu, AS menyerang fasilitas nuklir Iran dalam fase akhir kampanye pengeboman Israel selama 12 hari. Iran kemudian menyatakan aktivitas pengayaan uraniumnya telah dihentikan.
Pengerahan kekuatan laut AS yang disebut Trump sebagai “armada besar” terjadi setelah pemerintah Iran melakukan penindakan keras terhadap aksi protes nasional bulan lalu, sehingga semakin memperuncing ketegangan dengan Washington.
Trump memperingatkan bahwa “hal-hal buruk” kemungkinan akan terjadi jika kesepakatan gagal dicapai. Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa AS memiliki banyak opsi selain diplomasi.
Sementara itu, Rusia sebagai sekutu Iran menyatakan harapannya agar perundingan menghasilkan deeskalasi dan meminta semua pihak menahan diri.
Iran sendiri telah memperingatkan bahwa negara-negara Teluk Arab yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS dapat menjadi sasaran jika terlibat dalam serangan terhadap Teheran.
Baca Juga: Kirin Jual Four Roses, Fokus ke Bisnis Kesehatan
Program Rudal Jadi Garis Merah
Negosiasi di Oman dihadapkan pada penolakan tegas Iran untuk membahas program rudal balistiknya. Iran menegaskan tidak akan berunding mengenai kemampuan pertahanannya, termasuk rudal dan jangkauannya.
Sebagai sinyal sikap keras, televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa rudal balistik jarak jauh paling canggih, Khorramshahr-4, telah ditempatkan di salah satu “kota rudal” bawah tanah milik Garda Revolusi Iran.
Namun demikian, Iran disebut bersedia menunjukkan fleksibilitas dalam isu pengayaan uranium, termasuk menyerahkan sekitar 400 kilogram uranium yang diperkaya tinggi dan menerima skema pengayaan nol melalui pengaturan konsorsium internasional.
Iran juga menuntut pencabutan sanksi yang kembali diberlakukan sejak 2018, saat Presiden Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015.
AS, sekutu Eropanya, dan Israel menuding Iran menggunakan program nuklir sebagai kedok untuk mengembangkan senjata nuklir.
Baca Juga: Emas dan Perak Menguat dalam Perdagangan yang Bergejolak, CME Kerek Margin
Tuduhan tersebut dibantah Iran yang menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyamakan ancaman program nuklir dan rudal Iran sebagai “dua kanker” bagi keamanan kawasan.
Pengaruh Iran di Timur Tengah sendiri dilaporkan melemah signifikan setelah kelompok-kelompok sekutunya yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan” mengalami pukulan berat sejak konflik Hamas-Israel di Gaza pada 2023 dan runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah.













