kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pelajar Hong Kong yang jatuh saat demonstrasi akhir pekan meninggal


Jumat, 08 November 2019 / 10:37 WIB

Pelajar Hong Kong yang jatuh saat demonstrasi akhir pekan meninggal
ILUSTRASI. Para pengunjuk rasa anti-pemerintah berhadapan dengan polisi anti huru hara di Tsim Sha Tsui yang berada di Hong Kong, Cina, 27 Oktober 2019.

KONTAN.CO.ID -  HONG KONG. Seorang mahasiswa sebuah universitas Hong Kong yang jatuh selama protes pada akhir pekan meninggal dini hari Jumat (8//1). Peristiwa ini menandai kematian mahasiswa pertama selama demonstrasi anti-pemerintah yang telah mengguncang kota dan mengatur panggung untuk kerusuhan baru.

Mengutip Reuters, Jumat (8/11), otoritas Rumah Sakit telah mengkonfirmasi bahwa Chow Tsz-lok, 22 tahun, meninggal karena cedera pada Jumat pagi. Dia adalah seorang mahasiswa di Universitas Sains dan Teknologi Hong Kong dan mengikuti kursus sarjana dua tahun di departemen ilmu komputer.

Baca Juga: Ini hasil Fuzhou China Open 2019, 4 wakil Indonesia ke perempat final

Para pelajar dan anak muda selama ini berada di garis depan dari ratusan ribu orang yang terjun ke jalanan sejak Juni untuk mendesak demokrasi yang lebih besar bagi negara kota tersebut. Mereka juga menentang campur tangan China di pusat keuangan Asia tersebut.

Terkait kapan Chow menderita luka-luka sampai saat ini belum jelas, tetapi polisi mengatakan dia diyakini telah jatuh dari satu lantai ke lantai lainnya di tempat parkir selama akhir pekan saat polisi melakukan operasi pembubaran massa di sebuah distrik di timur semenanjung Kowloon.

Kematian Chow diperkirakan akan memicu protes baru dan kemarahan serta kebencian terhadap polisi, yang sudah berada di bawah tekanan besar di tengah tuduhan kekuatan yang berlebihan saat kota itu bergulat dengan krisis politik terburuk dalam beberapa dekade.

Baca Juga: Miliarder Michael Bloomberg pertimbangkan masuk bursa capres AS dari Demokrat

Protes berkepanjangan ini berlangsung dipicu RUU ekstradisi yang sekarang dihilangkan. Dalam RUU tersebut pelaku kejatahan di Hong Kong dapat dikirim ke China daratan untuk diadili.

Namun kendati telah dihilangkan, tapi protes ini menjadi meluas ke seruan lebih luas untuk demokrasi, yang memberikan tantangan terbesar bagi Presiden China Xi Jinping sejak ia memimpin pada tahun 2012.

Baca Juga: Perjanjian perang dagang AS-China tertunda, EUR/USD menguat

 


Sumber : Reuters
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan


Close [X]
×