Saat Amerika Kerek Suku Bunga, Seluruh Dunia Menanggung Rasa Sakitnya

Kamis, 22 September 2022 | 05:45 WIB   Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie
Saat Amerika Kerek Suku Bunga, Seluruh Dunia Menanggung Rasa Sakitnya

ILUSTRASI. The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin untuk ketiga kalinya berturut-turut pada Rabu (21/9/2022). REUTERS/Elizabeth Frantz

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. The Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin untuk ketiga kalinya berturut-turut pada Rabu (21/9/2022). Tak hanya itu, The Fed juga mengisyaratkan kemungkinan besar setidaknya satu kenaikan lagi sebesar itu di tahun ini. 

Reuters memberitakan, The Fed menaikkan suku bunga target ke kisaran 3,00%-3,25%. Ini merupakan level tertinggi sejak 2008. Selain itu, proyeksi baru menunjukkan suku bunga kebijakan naik menjadi antara 4,25%-4,50% pada akhir tahun ini sebelum mencapai 4,50% -4.75% pada tahun 2023. 

Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan pejabat bank sentral AS bertekad untuk menurunkan inflasi dari level tertinggi dalam empat dekade dan akan terus melakukannya sampai pekerjaan selesai.  Menurutnya, ini merupakan sebuah proses yang dia ulangi tidak akan datang tanpa rasa sakit. 

"Kita harus mengendalikan inflasi di belakang kita," kata Powell dalam konferensi pers setelah rilis pernyataan kebijakan Fed dan proyeksi ekonomi kuartalan yang diperbarui.  

Dia menambahkan, "Saya berharap ada cara tanpa rasa sakit untuk melakukan itu. (tapi) Tidak ada." 

Baca Juga: The Fed Kerek Suku Bunga, Powell Pertahankan Sikap Hawkish hingga Inflasi Terkendali

Mengutip The Economist, meski kenaikan suku bunga sudah diantisipasi oleh negara-negara lain, bank sentral AS memberikan kejutan lain. Yakni proyeksi baru mengungkapkan bahwa suku bunga mungkin akan naik ke kisaran 4,5%-4,75% pada akhir tahun 2023. Kisaran tersebut lebih tinggi dari yang diharapkan. 

Proyeksi juga menunjukkan bahwa pengangguran akan naik setidaknya 0,7 poin persentase sebelum akhir tahun depan.

Pengumuman tersebut membuat pasar terguncang. Pasalnya, kebijakan moneter Amerika yang lebih ketat menekan aktivitas ekonomi di negara lain, dengan menahan risiko dan mendorong nilai dolar. 

Sejak akhir Agustus, ketika Jerome Powell, Pimpinan The Fed, memberikan pidato pada konferensi bank sentral di Wyoming yang menguraikan tekadnya untuk menekan inflasi, pasar keuangan telah terpukul. Nilai dolar telah meningkat sekitar 2,5% selama sebulan terakhir saja, dan menguat sebesar 16% sejak awal tahun.

Aliran modal banyak yang mengalir ke Amerika seiring tingginya tingkat suku bunga. Kondisi ini terbukti semakin sulit untuk ditangani oleh negara lain. Mata uang yang jatuh berarti harga impor yang lebih tinggi, sehingga memperburuk masalah inflasi dan memaksa bank sentral negara-negara dunia untuk melakukan kenaikan suku bunga mereka sendiri. 

Baca Juga: Suku Bunga Naik, Imbal Hasil Surat Utang Ikut Terkerek

Pada tanggal 20 September, Riksbank Swedia menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,75% dan memperingatkan akan ada kenaikan lagi dalam enam bulan ke depan untuk menekan lonjakan inflasi. Bank of England diperkirakan akan mencerminkan kenaikan 0,75 poin persentase suku bunga The Fed pada pertemuannya 22 September 2022.

Hasil dari kondisi keuangan yang lebih ketat dan kebijakan moneter yang hawkish telah menyebabkan imbal hasil obligasi global juga terkerek. Dalam beberapa hari terakhir, imbal hasil obligasi AS dengan tenor sepuluh tahun telah meningkat di atas 3,5%, kembali ke level yang terakhir terlihat di awal 2010-an. 

Selama sebulan terakhir saja, imbal hasil obligasi bertenor sepuluh tahun telah meningkat lebih dari 0,6 poin persentase di Jerman dan Korea Selatan, dan hampir satu poin persentase penuh di Inggris. 

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Terbaru