Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Standard Chartered Bank menaikkan target profitabilitas jangka menengahnya seiring langkah efisiensi besar-besaran melalui pengurangan tenaga kerja dan perluasan bisnis wealth management.
Dalam pembaruan strategi kepada investor pada Selasa (19/5/2026), bank yang berbasis di London tersebut menargetkan return on tangible equity (ROTE) lebih dari 15% pada 2028, naik lebih dari tiga poin persentase dibandingkan capaian 2025.
Baca Juga: Demi Menghemat Anggaran, Selandia Baru Akan Memangkas Ribuan Pegawai Negeri
Target tersebut bahkan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 18% pada 2030.
Untuk mencapai sasaran tersebut, Standard Chartered akan memangkas lebih dari 15% posisi di fungsi korporasi hingga 2030.
Berdasarkan data per Juni 2025, bank ini memiliki sekitar 51.000 pegawai di fungsi pendukung atau back office, dari total sekitar 80.000 karyawan global. Artinya, lebih dari 7.000 posisi diperkirakan terdampak.
Chief Executive Officer (CEO) Standard Chartered Bill Winters mengatakan, pengurangan tenaga kerja akan didorong oleh otomatisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), seiring sebagian pegawai dialihkan ke keterampilan baru.
“Ini bukan sekadar pemangkasan biaya. Dalam beberapa kasus, kami mengganti human capital bernilai lebih rendah dengan investasi modal dan teknologi yang kami tanamkan,” ujar Winters dalam konferensi pers dilansir Reuters.
Baca Juga: Samsung dan Serikat Pekerja Kembali Berunding Hindari Aksi Mogok 18 Hari
Saham Standard Chartered yang diperdagangkan di Hong Kong naik 2,3% pada awal perdagangan, lebih baik dibanding indeks acuan Hang Seng yang cenderung datar.
Melalui strategi terbaru ini, Standard Chartered ingin melanjutkan transformasi bisnis yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir, sekaligus menjaga pertumbuhan di tengah ketidakpastian geopolitik global yang membayangi sejumlah pasar utamanya.
Analis menilai, bank-bank di kawasan Asia Pasifik berpotensi meningkatkan pencadangan kerugian kredit apabila konflik Iran berkepanjangan dan memicu tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi serta biaya energi.
Bagi Standard Chartered yang memiliki fokus utama di Asia Pasifik dan Afrika, kawasan tersebut menjadi sumber pertumbuhan sekaligus risiko.
Pada kuartal pertama 2026, bank ini telah mencadangkan US$ 190 juta sebagai langkah antisipatif terkait konflik Timur Tengah.
Baca Juga: MPOC Prediksi Harga CPO Bertahan di Kisaran US$ 1.110 per Ton pada Juni 2026
Bill Winters menyebut Standard Chartered berhasil mencapai target keuangan jangka menengah 2026 lebih cepat satu tahun dari rencana awal.
“Kami kini memiliki organisasi yang lebih fokus, ramping, dan efisien,” ujarnya.
Ke depan, Standard Chartered akan memperkuat fokus pada bisnis dengan margin lebih tinggi, termasuk layanan nasabah affluent dan institusi keuangan di divisi corporate dan investment banking.
Pada kuartal pertama 2026, bank ini membukukan pendapatan wealth management tertinggi sepanjang sejarah serta pertumbuhan dana nasabah baru.
Selain itu, pada Senin (18/5), Standard Chartered juga resmi menunjuk Manus Costello sebagai Chief Financial Officer (CFO) permanen, menggantikan Diego De Giorgi yang mengundurkan diri pada Februari lalu setelah hampir tiga tahun menjabat.













