kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.745   38,00   0,23%
  • IDX 8.725   77,96   0,90%
  • KOMPAS100 1.201   7,76   0,65%
  • LQ45 849   2,62   0,31%
  • ISSI 314   5,12   1,66%
  • IDX30 437   0,17   0,04%
  • IDXHIDIV20 510   -0,25   -0,05%
  • IDX80 133   0,91   0,68%
  • IDXV30 140   0,61   0,44%
  • IDXQ30 140   -0,01   -0,01%

Taiwan Tegang, Roket China Jatuh di Zona Lautnya


Jumat, 02 Januari 2026 / 08:21 WIB
Taiwan Tegang, Roket China Jatuh di Zona Lautnya
ILUSTRASI. Dalam beberapa hari terakhir, China menggelar latihan militer di laut dan wilayah udara sekitar Taiwan. (Dado Ruvic/Illustration/REUTERS)


Sumber: dpa International | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden Taiwan Lai Ching-te pada Rabu memperingatkan bahwa latihan militer China di sekitar Taiwan bukanlah kejadian terpisah, melainkan bagian dari pola yang lebih besar dan menjadi ancaman serius bagi stabilitas kawasan.

“Belakangan ini, mulai dari wilayah sekitar Jepang hingga Laut China Selatan, dan kini lewat berbagai pelanggaran yang menyasar Taiwan, ekspansi otoriter dan tekanan militer China telah menciptakan ketidakpastian dan risiko besar bagi stabilitas kawasan, serta berdampak pada pelayaran global, perdagangan, dan perdamaian,” ujar Lai dalam upacara kenaikan pangkat perwira militer.

Mengutip DPA International, Lai mengatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, China menggelar latihan militer di laut dan wilayah udara sekitar Taiwan. Ia menambahkan bahwa angkatan bersenjata Taiwan merespons dengan cepat, menunjukkan kemampuan reaksi cepat, taktik fleksibel, serta kemampuan menghadapi potensi blokade.

Militer China, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), pada Senin meluncurkan latihan militer mendadak bertajuk “Justice Mission 2025” di sekitar Taiwan. Meski menuai kritik internasional, latihan tersebut berlanjut hingga Selasa, dengan sebagian dari 27 roket uji yang ditembakkan jatuh di dalam zona tambahan Taiwan sejauh 24 mil laut (sekitar 44 kilometer).

Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa pada Selasa pihaknya mendeteksi 77 sorti pesawat militer PLA dan 17 kapal perang China beroperasi di sekitar wilayah Taiwan.

Pejabat senior PLA dari Komando Teater Timur, Kapten Senior Li Xi, menyatakan bahwa latihan “Justice Mission 2025” telah berhasil diselesaikan dan sepenuhnya menguji kemampuan operasi gabungan terpadu pasukan China.

Baca Juga: PDB Singapura Melonjak 5,7% di Akhir 2025, AI dan Tarif AS Pemicu

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Taiwan menegaskan bahwa provokasi militer China yang agresif dan bernuansa perang telah merusak perdamaian serta stabilitas kawasan, dan memicu kecaman dari negara-negara demokratis mitra internasional.

“Kami akan terus merespons secara tenang, terukur, tertib, dan terkendali, sembari menjaga kedaulatan nasional, kebebasan demokrasi, serta keselamatan rakyat dan harta benda mereka,” tegas kementerian tersebut.

Kementerian Luar Negeri Taiwan juga menyampaikan terima kasih kepada Uni Eropa, Inggris, Prancis, Jerman, Australia, Selandia Baru, Jepang, serta negara-negara mitra lain yang menyatakan keprihatinan serius atas latihan militer China yang dinilai meningkatkan ketegangan di Selat Taiwan secara sepihak.

Di Taiwan, Direktur Jenderal German Institute Taipei, Karsten Tietz, menyatakan bahwa latihan militer China telah meningkatkan ketegangan dan merusak stabilitas di Selat Taiwan.

Baca Juga: China Kenakan Tarif Tinggi Impor Daging Sapi, Ini Tujuannya

“Setiap perubahan status quo hanya boleh terjadi secara damai dan melalui kesepakatan bersama. Pemerintah federal Jerman menyerukan pengendalian diri dan dialog,” ujarnya.

China memutus seluruh komunikasi resmi dengan Taiwan sejak Juni 2016, sebulan setelah mantan Presiden Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik yang cenderung pro-kemerdekaan menjabat. Sejak menjabat pada 2024, Presiden Lai tetap menyatakan keterbukaan untuk memperluas dialog dengan China, meski ketegangan lintas selat terus berlangsung.

Taiwan, negara demokratis dengan 23,4 juta penduduk, telah menjalankan pemerintahan sendiri sejak 1949. Namun, China memandang pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya dan berulang kali mengancam akan mencaploknya.

Tonton: HP 2026: Kamera 200MP! Siapa Punya?

Kesimpulan

Latihan militer besar-besaran China di sekitar Taiwan kembali meningkatkan ketegangan kawasan dan memicu kekhawatiran internasional. Taiwan menilai langkah tersebut sebagai bagian dari strategi tekanan jangka panjang Beijing yang mengancam stabilitas regional, perdagangan global, dan perdamaian, meski Taipei menegaskan tetap merespons secara terukur sambil membuka ruang dialog.

Selanjutnya: PDB Singapura Melonjak 5,7% di Akhir 2025, AI dan Tarif AS Pemicu

Menarik Dibaca: Promo PHD Double Box Hemat, Paket 2 Pizza dengan 14 Pilihan Topping Mulai Rp 80.000




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×