kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Thailand memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi 2,7%-3,2%


Senin, 19 Agustus 2019 / 11:45 WIB
Thailand memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi 2019 menjadi 2,7%-3,2%
ILUSTRASI. Uang baht Thailand

Sumber: Reuters | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - BANGKOK. Ekonomi Thailand tumbuh pada laju paling buruk dalam hampir lima tahun terakhir. Badan Perencanaan Negara mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Negeri Gajah Putih ini hanya akan mencapai 2,7%-3,2%, turun dari prediksi Mei lalu pada 3,3%-3,8%

Badan Perencanaan pun memangkas prediksi pertumbuhan ekspor menjadi 1,2% tahun ini dari sebelumnya 2,2%. Di kuartal kedua, ekspor Thailand turun 4,2% secara tahunan. Pada periode yang sama 2018 lalu, ekspor naik 7,5%.

Pemangkasan prediksi ini dilakukan di tengah kenaikan tensi perang dagang. Para eksportir Thailand pun mengeluhkan nilai tukar baht yang menguat lebih tinggi ketimbang mata uang Asia lainnya sehingga mengurangi daya saing produk ekspor. 

Baca Juga: 50 kota teramah di dunia tahun 2019

Thailand melaporkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,3% secara tahunan pada kuartal kedua. Angka ini lebih rendah ketimbang polling Reuters yang meramalkan pertumbuhan 2,4%. Tapi, angka ini jauh melorot daripada pertumbuhan kuartal pertama yang sebesar 2,8%.

Secara kuartalan, pertumbuhan hanya 0,6% di kuartal kedua. Angka ini lebih rendah ketimbang prediksi pada 0,7% dan kuartal pertama lalu pada 1%.

Capital Economics memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Thailand akan rendah tahun ini. Prediksi Capital Economics, Thailand akan tumbuh 2,5% tahun ini dan 3% pada tahun depan.

Baca Juga: Inilah tiga skenario posisi nilai tukar yuan saat perang dagang

Sedangkan Charnon Boonnuch dari Nomura memperkirakan, pertumbuhan di semester kedua akan naik menjadi 3,4% dari 2,6% di semeter pertama. Kenaikan laju pertumbuhan ini dibantu oleh kebijakan pelonggaran fiskal dan moneter.

Seluruh negara Asia Tenggara melaporkan pertumbuhan tahunan yang lebih rendah pada kuartal kedua, kecuali Malaysia. Penyebab utamanya, perang dagang Amerika Serikat (AS) dan permintaan global yang berkurang.

Paket stimulus




TERBARU

×