kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.971   60,00   0,33%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

Thailand Siapkan US$ 714 Juta untuk Ganti 80.000 Kendaraan Tua dengan Mobil Listrik


Kamis, 23 Juli 2026 / 15:23 WIB
Thailand Siapkan US$ 714 Juta untuk Ganti 80.000 Kendaraan Tua dengan Mobil Listrik
ILUSTRASI. Ilustrasi Mobil Listrik (KONTAN/Muradi)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Pemerintah Thailand tengah mengkaji program senilai 24 miliar baht atau sekitar US$ 714 juta untuk membantu mengganti hingga 80.000 kendaraan tua dengan kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Program tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat transisi energi sekaligus menghidupkan kembali industri otomotif yang sedang melemah.

Baca Juga: Bursa Asia Beragam Kamis (23/7), Reli Saham Korea Selatan Imbangi Tekanan di ASEAN

Mengutip Reuters, pemerintah juga sedang mempertimbangkan untuk memperluas cakupan program sehingga tidak hanya menyasar kendaraan angkutan umum dan komersial, tetapi juga seluruh kategori kendaraan listrik.

Wakil Menteri Perhubungan Thailand Siripong Angkasakulkiat mengatakan, proposal awal yang diajukan kepada komite pemerintah pada Juni lalu berfokus pada penggantian kendaraan angkutan komersial seperti taksi, ojek, tuk-tuk, bus, dan truk menjadi kendaraan listrik.

"Kami sedang mempertimbangkan apakah bantuan tersebut perlu diperluas ke semua kategori kendaraan, bukan hanya kendaraan untuk transportasi," kata Siripong kepada Reuters.

Pembahasan mengenai perluasan program semakin intensif setelah Mahkamah Konstitusi Thailand memutuskan bahwa rencana pemerintah untuk menarik utang darurat sebesar 400 miliar baht atau sekitar US$ 11,9 miliar sah secara hukum.

Putusan tersebut membuka ruang bagi pemerintah untuk meningkatkan belanja, termasuk mendukung transisi energi.

Baca Juga: Indonesia Resmi Pesan 12 Pesawat Tempur Ringan M-346F Block 20, Pengiriman Mulai 2030

Insentif bisa berupa subsidi hingga pinjaman murah

Siripong menjelaskan dukungan pemerintah dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari subsidi pembelian, pinjaman berbunga rendah, hingga insentif pajak bagi kendaraan yang memenuhi syarat usia untuk diganti.

Komite yang dipimpin Kementerian Keuangan Thailand bertugas mengevaluasi dan menyetujui proyek-proyek yang didanai melalui skema pinjaman tersebut, termasuk program transisi energi.

Langkah ini juga diharapkan mampu mengangkat kembali industri otomotif Thailand.

Sebagai pusat produksi kendaraan terbesar di Asia Tenggara, Thailand mengalami penurunan penjualan mobil domestik ke level terendah dalam 15 tahun pada 2024 akibat tingginya utang rumah tangga dan ketatnya persyaratan kredit, terutama untuk segmen pikap, yang merupakan tulang punggung industri otomotif negara tersebut.

Data Federation of Thai Industries (FTI) menunjukkan penjualan mobil domestik Thailand sepanjang 2025 mencapai 621.166 unit, termasuk 120.301 mobil penumpang listrik. Pada periode yang sama, penjualan sepeda motor mencapai sekitar 1,7 juta unit.

Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Menguat 0,46%, Ditopang Saham Terkait Chip

Industri dorong insentif untuk EV buatan lokal

Pelaku industri meminta agar setiap insentif baru difokuskan pada kendaraan listrik yang diproduksi di dalam negeri dan menggunakan mayoritas komponen lokal.

Juru bicara Automotive Industry Club di bawah FTI, Surapong Paisitpattanapong, mengatakan peningkatan produksi EV lokal akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.

"Semakin banyak produksi kendaraan listrik di dalam negeri berarti semakin banyak lapangan kerja, pendapatan yang lebih tinggi, dan penerimaan pajak yang lebih besar. Ini menjadi situasi yang menguntungkan bagi pelaku usaha, konsumen, maupun pemerintah," ujarnya.

Senada, Wakil Presiden Electric Vehicle Association of Thailand, Siamnat Panassorn, mengatakan program tukar tambah kendaraan sebaiknya juga hanya berlaku untuk EV yang diproduksi di Thailand.

Ia berharap pemerintah memprioritaskan elektrifikasi sepeda motor dan bus umum karena kedua jenis kendaraan tersebut menghasilkan emisi yang relatif tinggi.

Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Naik, Pasar Makin Yakin RBA Akan Kembali Naikkan Suku Bunga

Taksi dan pikap masuk prioritas

Siripong mengatakan, pemerintah ingin mendorong adopsi kendaraan listrik di seluruh segmen kendaraan.

"Tujuannya adalah mempercepat adopsi kendaraan listrik di semua kategori sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat melalui teknologi yang lebih bersih dan aman," katanya.

Ia memastikan pemerintah akan meluncurkan kebijakan terkait kendaraan listrik pada tahun ini, meski rincian program masih dibahas dan diperkirakan baru akan difinalisasi dalam sekitar satu bulan ke depan.

Salah satu skema yang sedang dipertimbangkan adalah bantuan pembiayaan bagi pengemudi taksi yang harus mengganti kendaraan berusia 10 tahun pada tahun depan.

Melalui skema tersebut, cicilan harian kendaraan listrik diperkirakan dapat ditekan menjadi sekitar 500 baht per hari dari sebelumnya sekitar 700 baht per hari selama lima tahun.

Baca Juga: China Memulai Latihan Tembak Langsung di Selat Taiwan

Menteri Keuangan Thailand Ekniti Nitithanprapas juga mengatakan program tersebut akan mencakup pembelian kendaraan baru, penggantian pikap menjadi kendaraan listrik, serta peralihan ke kendaraan yang dapat menggunakan biodiesel B20, melalui kombinasi pinjaman berbunga rendah dan subsidi.

Segmen pikap memiliki peran strategis bagi industri otomotif Thailand karena menyumbang lebih dari 60% total produksi kendaraan nasional dan menjadi penopang utama jaringan pemasok komponen, lapangan kerja manufaktur, serta industri suku cadang.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×