kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Tiga jam di ruang neraka, ini cerita mencekam pengunjuk rasa Myanmar


Jumat, 12 Maret 2021 / 08:55 WIB
Tiga jam di ruang neraka, ini cerita mencekam pengunjuk rasa Myanmar
ILUSTRASI. Polisi menembakkan meriam air ke arah pengunjuk rasa yang melakukan demonstrasi menentang kudeta militer. REUTERS/Stringer


Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - YANGON. Seorang pengunjuk rasa di Myanmar bercerita soal penahanannya di ruang neraka oleh pasukan militer selama tiga jam. Penahanan itu sebagai bagian dari tindakan keras terhadap penentang kudeta militer yang terjadi bulan lalu. Dia lalu menceritakan soal penyiksaan yang dialaminya akibat pemukulan dengan ikat pinggang, rantai, tongkat bambu dan pentungan.

Melansir Reuters, dalam cerita tentang perlakuan terhadap aktivis yang ditahan, pria itu mengatakan kepada Reuters bahwa dia adalah salah satu dari sekitar 60 orang yang ditangkap pada Selasa (9/3/2021) oleh polisi di Myeik, kota pantai selatan, saat mereka bersembunyi di sebuah rumah setelah aksi protes dibubarkan.

Tidak sekadar berbicara, pria itu juga memberikan foto-foto yang diambil oleh keluarganya dengan menunjukkan luka di punggung, leher, dan bahunya.

Reuters telah memverifikasi bahwa foto-foto itu adalah benar pria tersebut. Dan pihak keluarganya yang mengambil fotonya. 

Baca Juga: Militer Myanmar tuduh Suu Kyi terima uang ilegal US$ 600.000 dan 11 kg emas

Reuters memberitakan, pria tersebut bercerita bahwa para pengunjuk rasa dimasukkan ke dalam truk dan diserahkan kepada pasukan di pangkalan udara Myeik, di mana para pria dipisahkan dari wanita, difoto dan dibawa ke sebuah ruangan. Pria itu enggan menyebut nama karena takut ditahan lagi.

Reuters tidak dapat mencapai pangkalan udara tersebut untuk dimintai komentar.

Baca Juga: Militer Myanmar dinilai telah menggunakan taktik mematikan terhadap pengunjuk rasa

"Kami dipukuli sepanjang waktu bahkan saat kami berjalan ke kamar. Para prajurit berkata, 'Ini adalah ruang neraka, mengapa kalian tidak mencicipinya?'" katanya.

Dia menjelaskan semua pengunjuk rasa yang ditahan disuruh berlutut. Selain itu, lima dari kelompok itu diberitahu untuk saling berhadapan saat mereka dipukuli di punggung, kepala, leher dan samping. 

Dia mengatakan dia kemudian dibebaskan bersama dengan beberapa orang lainnya tanpa penjelasan. Beberapa lainnya ditangkap secara resmi dan dikirim ke penjara.

Seorang juru bicara militer tidak menjawab panggilan untuk mengomentari tuduhan pria itu. Kantor polisi Myeik juga tidak menjawab telepon dari Reuters.

Sebelumnya, tentara Myanmar mengatakan bahwa mereka menangani aksi protes secara sah.

Baca Juga: Dewan Keamanan PBB meminta militer Myanmar setop lakukan kekerasan

Reuters juga tidak dapat menghubungi penjara untuk memberikan komentar.

Pyae Phyo Aung, mantan anggota serikat mahasiswa di Myeik yang telah berhubungan dengan pengunjuk rasa yang dibebaskan, mengatakan kepada Reuters bahwa 32 orang ditangkap dalam insiden itu. Pyae Phyo Aung mengatakan, dia melihat pengunjuk rasa lain dengan luka di punggung dan pinggulnya.

Baca Juga: Ratusan massa anti-kudeta yang terperangkap di Yangon akhirnya berhasil keluar

"Ketika saya bertemu dengannya, dia bahkan tidak bisa duduk," kata Tuan Pyae Phyo Aung. "Dia berbaring telungkup karena cedera di pinggulnya."

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi dalam kudeta pada 1 Februari dan menahannya serta politisi lainnya.

Militer mengatakan pemilu pada November tahun lalu yang dimenangkan oleh Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Suu Kyi dinodai oleh penipuan. Klaim ini ditolak oleh komisi pemilihan nasional. Militer juga telah membentuk junta untuk memerintah negara itu sambil menunggu pemungutan suara baru, yang tanggalnya belum ditentukan.

Data Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik menunjukkan, pasukan keamanan telah menindak dengan kekuatan yang semakin meningkat pada aksi protes nasional setiap hari, dan lebih dari 60 demonstran telah tewas dan 1.900 orang ditangkap sejak kudeta.

Baca Juga: Sedikitnya 54 orang tewas, PBB: Militer Myanmar harus berhenti membunuh pendemo

Reuters belum dapat mengkonfirmasi angka tersebut secara independen.

Setidaknya dua orang, keduanya pejabat NLD, telah tewas dalam tahanan sejak Sabtu lalu setelah ditangkap, menurut sumber partai, meskipun alasan kematian mereka tidak diketahui.

Militer belum berkomentar tentang ini.

Selanjutnya: Hari terkejam sejak kudeta militer, PBB: Hampir 40 orang tewas dalam aksi protes




TERBARU

[X]
×