Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Thomas Dans, yang dikenal sebagai salah satu tokoh paling vokal mendorong pengambilalihan Greenland oleh AS, mengatakan kepada USA Today bahwa upaya serius bisa dilakukan dalam “minggu atau bulan”.
“Ini seperti jalur kereta dengan banyak pemberhentian. Tapi bisa saja melaju ekspres, melewati semua halte, dan langsung ke stasiun utama. Itulah yang diinginkan Presiden Trump, bergerak cepat,” kata Dans.
Meski begitu, Dans juga menyampaikan nada yang lebih lunak. Ia mengakui bahwa AS perlu “mendapatkan dukungan rakyat Greenland”. Jajak pendapat menunjukkan, meski mayoritas dari 57.000 penduduk Greenland ingin suatu hari lepas dari Denmark, jauh lebih banyak yang tidak ingin menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Denmark menegaskan bahwa Greenland tidak dijual. Hingga kini juga belum jelas tawaran seperti apa yang bisa diajukan Trump untuk membeli pulau terbesar di dunia tersebut.
Namun, Dans mengatakan bahwa “secara transaksi, segalanya bisa terjadi dengan cepat”, meski upaya merebut hati dan pikiran warga Greenland bisa membuat proses pengambilalihan menjadi lebih lama.
Tonton: Yayasan Milik Bill Gates Tunjuk Sri Mulyani Jadi Dewan Pengurus
Pertemuan hari Rabu sejatinya diminta oleh Denmark yang khawatir dengan retorika Trump. Namun, keputusan Vance untuk memimpin pertemuan itu berpotensi menjadi bumerang jika ia justru menyerang Denmark dan Greenland seperti yang pernah ia lakukan terhadap Zelensky.
Trump disebut lebih memilih membeli Greenland secara langsung, atau setidaknya mengambil alih kendali tanpa harus memiliki wilayah itu secara resmi melalui kesepakatan diplomatik. Namun, Gedung Putih menolak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer di Greenland, dan menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka bagi Amerika Serikat.












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
