Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Trump menegaskan Amerika Serikat berniat “mengelola” Venezuela, meski pejabat AS menyebut pendekatan saat ini adalah memperluas pengaruh tanpa melakukan pendudukan militer penuh.
Venezuela, yang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, mengalami kemerosotan ekonomi dalam beberapa dekade terakhir. Krisis tersebut memicu eksodus sekitar delapan juta warga Venezuela ke luar negeri.
Pemerintah AS dan oposisi Venezuela selama ini menyalahkan korupsi, salah kelola, dan kekerasan oleh Partai Sosialis yang berkuasa, sementara Maduro menuding sanksi AS sebagai penyebab utama kerusakan ekonomi.
Sejumlah pejabat tinggi AS menilai pengendalian penjualan dan pendapatan minyak Venezuela diperlukan tanpa batas waktu untuk memulihkan industri minyak dan membangun kembali perekonomian negara tersebut.
Baca Juga: Rusia Kecam Agresi Bersenjata AS ke Venezuela, Minta Dewan Keamanan PBB Bersidang
Trump dijadwalkan bertemu dengan pimpinan perusahaan minyak besar di Gedung Putih pada Jumat untuk membahas peningkatan produksi minyak Venezuela.
Perwakilan dari Exxon Mobil, ConocoPhillips, dan Chevron disebut akan hadir. Ketiga perusahaan itu memiliki pengalaman lama beroperasi di Venezuela, meski hingga kini menolak memberikan komentar.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintah telah berkomunikasi dengan para CEO perusahaan minyak tersebut segera setelah penangkapan Maduro.
Ia menyebut perusahaan-perusahaan itu siap berperan sebagai penasihat dan mitra dalam proses pemulihan sektor minyak Venezuela, meski investasi besar tidak akan dilakukan dalam waktu dekat.













