Sumber: Fortune,Fortune,Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Menurut Turner, jika The Fed memberi sinyal jeda kenaikan suku bunga, dolar bisa mendapat sedikit dukungan. Namun, jika dolar tetap melemah meski imbal hasil obligasi AS naik, hal itu akan menjadi sinyal momentum bearish yang kuat bagi dolar.
“Dolar bisa memasuki fase pelemahan lanjutan sekitar 3%. Sulit dijustifikasi dengan fundamental, tapi sekarang dolar yang harus membuktikan diri,” tulis Turner.
Di tengah melemahnya fungsi dolar sebagai penyimpan nilai, investor berbondong-bondong ke emas. Bank sentral di berbagai negara juga mulai meningkatkan cadangan emas sebagai lindung nilai terhadap penurunan dolar.
Drama dolar dan emas ini sedikit menutupi kinerja pasar saham AS. Indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru, naik 0,41% ke level 6.978,6. Namun bagi investor asing, kenaikan tersebut tergerus oleh pelemahan dolar sekitar 1%, sehingga secara global nilai aset AS justru turun.
Tonton: Pasar Stablecoin Menyusut, Investor Pilih Emas Ketimbang Bitcoin
Secara keseluruhan, pasar tampaknya bertaruh bahwa strategi Trump dengan dolar lemah demi ekspor dan saham akan menguntungkan pasar ekuitas. Namun sebagai langkah berjaga-jaga, investor tetap memborong emas.












