Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Senin (1/6/2026) setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat.
Aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta keputusan Israel memperluas operasi militernya di Lebanon, memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Baca Juga: Iran Sebut Sikap AS yang Berubah-Ubah dan Serangan Israel di Lebanon Hambat Diplomasi
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$ 2,93 atau 3,2% menjadi US$ 94,05 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak US$ 3,36 atau 3,9% ke level US$ 90,72 per barel.
Kenaikan tersebut terjadi meskipun sepanjang Mei lalu harga Brent dan WTI masing-masing telah terkoreksi sekitar 19% dan 17%.
Sentimen utama pasar berasal dari memudarnya harapan tercapainya perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran.
Ketegangan kembali meningkat setelah Washington mengumumkan telah melakukan serangan yang disebut sebagai "aksi bela diri", sementara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang pangkalan udara yang digunakan AS untuk melancarkan serangan.
Baca Juga: Coinbase Kembali Ekspansi, Hadirkan Layanan Kripto di India
Di saat yang sama, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan pasukan Israel memperluas operasi militer ke wilayah Lebanon selatan dalam pertempuran melawan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.
Perkembangan tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah AS menjadi tuan rumah pembicaraan damai antara Israel dan Lebanon di Washington.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan akan segera memutuskan proposal perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan pada awal April.
Namun, Iran berulang kali menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup Hezbollah sebagai bagian dari penyelesaian konflik kawasan.
Seorang pejabat AS menyebut Washington telah mengusulkan rencana "de-eskalasi bertahap" untuk meredakan ketegangan.
Baca Juga: Netanyahu Perintahkan Serangan ke Beirut, Konflik Israel-Lebanon Kian Memanas
Kekhawatiran Selat Hormuz
Pasar juga mencermati meningkatnya risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Analis IG, Tony Sycamore mengatakan, kekhawatiran terhadap ranjau laut di Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang menopang harga minyak.
"Bahkan jika kesepakatan tercapai, hal itu tidak akan langsung memicu lonjakan pasokan minyak ke pasar," ujarnya.
Laporan Axios menyebut Iran diduga menempatkan tambahan ranjau di wilayah selat tersebut pada pekan lalu, meningkatkan kekhawatiran mengenai proses normalisasi lalu lintas energi global.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan, lambatnya proses diplomatik disebabkan oleh rendahnya tingkat kepercayaan, sikap AS yang dinilai berubah-ubah, serta serangan Israel di Lebanon.
Baca Juga: Macron Raup Komitmen Investasi 93 Miliar Euro, Dorong Prancis Jadi Hub AI Eropa
Data China Terabaikan
Kekhawatiran pasokan energi membuat pasar mengabaikan data ekonomi China yang menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami perlambatan.
Data tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa ekonomi terbesar kedua dunia itu mulai kehilangan momentum pertumbuhan, yang berpotensi menekan permintaan energi global dalam jangka menengah.
Di sisi lain, survei Reuters menunjukkan Saudi Aramco kemungkinan kembali memangkas harga jual resmi (official selling prices/OSP) minyak mentah untuk pasar Asia pada Juli, menandai penurunan bulan kedua berturut-turut.
Meski demikian, bank investasi Goldman Sachs menilai risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah masih menjadi faktor yang dapat mendorong harga minyak lebih tinggi.
Baca Juga: DBS Bidik Kekayaan Asia, 18 Pusat Baru Siap Layani Jutaan Dolar
Goldman Sachs memperingatkan lemahnya permintaan minyak dari China dan Eropa menjadi risiko penurunan terhadap proyeksi harga Brent kuartal IV 2026 di level US$ 90 per barel dan WTI di US$ 83 per barel.
Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi mengimbangi tekanan tersebut dan menjaga harga tetap tinggi.













