Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Serangan rudal dan drone Iran kembali menghantam sejumlah wilayah pada Selasa (24/3/2026), termasuk Israel, Irak, Bahrain, dan Kuwait.
Ini terjadi meski Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Washington dan Teheran telah memulai “pembicaraan yang sangat kuat” untuk mengakhiri perang, sebuah klaim yang langsung dibantah Iran.
Melansir Yahoo News, juru bicara militer Iran menegaskan negaranya akan terus bertahan hingga meraih “kemenangan penuh”. Sementara itu, Trump tetap bersikeras bahwa pihak Iran ingin mencapai kesepakatan dan menyebut negosiasi sedang berlangsung.
Namun, hingga kini sinyal dari kedua pihak masih bertolak belakang. Trump sebelumnya bahkan sempat mengancam akan menyerang fasilitas listrik Iran jika negara itu tidak membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Serangan Berlanjut, Konflik Meluas
Gelombang serangan terbaru menunjukkan konflik belum mereda. Rudal Iran dilaporkan menghantam Tel Aviv dan wilayah lain di Israel, menyebabkan korban luka serta kerusakan bangunan.
Di Irak, serangan rudal menewaskan enam pejuang Kurdi dan melukai puluhan lainnya. Sementara di Bahrain, satu warga asing tewas dan beberapa personel militer terluka akibat serangan. Kuwait juga melaporkan serangan drone dan rudal sepanjang malam.
Baca Juga: Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. Umumkan Darurat Energi Nasional, Ini Alasannya
Di sisi lain, militer Israel di bawah pimpinan Benjamin Netanyahu memperluas operasi militernya hingga Lebanon selatan, dengan indikasi ingin mempertahankan kontrol wilayah lebih luas.
Ketegangan dengan kelompok Hezbollah yang didukung Iran juga kembali meningkat, meski sebelumnya sempat ada gencatan senjata.
Negosiasi Damai Masih Abu-Abu
Trump mengklaim peluang kesepakatan damai cukup besar dan bahkan menyebut telah ada “poin-poin kesepakatan penting”. Ia juga menegaskan AS ingin memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
Namun, pernyataan ini dibantah langsung oleh Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf yang menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS. Media pemerintah Iran bahkan menyebut klaim Trump sebagai upaya memengaruhi pasar energi dan keuangan global.
Meski begitu, jalur diplomasi tetap terbuka. Sejumlah negara seperti Pakistan menawarkan diri menjadi mediator. Negara lain seperti Mesir, Turki, dan Arab Saudi juga aktif mendorong deeskalasi konflik.
Baca Juga: Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pasar, Wall Street Kembali Terkoreksi
Harga Energi dan Pasar Global Bergejolak
Ketidakpastian ini langsung mengguncang pasar global. Harga minyak sempat turun setelah klaim negosiasi, namun kembali naik setelah Iran membantahnya.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran membuat sekitar seperlima pasokan minyak dunia terganggu. Akibatnya, harga energi melonjak tajam dan memicu kekhawatiran inflasi global.
Negara-negara pun mulai merespons. Filipina bahkan menetapkan status darurat energi karena lonjakan harga minyak dianggap mengancam stabilitas pasokan.
Tonton: NATO Bergerak! 22 Negara Bersiap Hadapi Blokade Iran di Hormuz
Risiko Global Kian Meluas
Pemerintah AS juga mengeluarkan peringatan keamanan global bagi warganya di luar negeri. Ancaman serangan tidak hanya terbatas di Timur Tengah, tetapi juga berpotensi menyasar kepentingan AS di berbagai belahan dunia.
Situasi ini menunjukkan satu hal: meski ada wacana damai, realitas di lapangan masih jauh dari kata mereda.
Jadi, apakah perang akan segera berakhir?
Untuk saat ini, jawabannya masih belum jelas—karena yang terlihat justru eskalasi serangan, bukan deeskalasi konflik.













